- ANTARA
Breaking! Rupiah Terperosok ke Rp17.353 per Dolar AS Seiring Kekhawatiran Fitch Rating soal Danantara dan UEA Keluar dari OPEC
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.324 pada Rabu, 29 April 2026. Posisi rupiah itu melemah 79 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.245 pada perdagangan Selasa, 28 April 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 30 April 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.353 per dolar AS. Posisi itu melemah 27 poin atau 0,16 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.326 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, lembaga pemeringkat utang, Fitch Rating, menjelaskan sejumlah kekhawatiran investor terhadap Danantara, yang merupakan salah satu point penting yang disorot dalam pertimbangan Fitch ketika memangkas outlook utang Indonesia dari sebelumnya stabil menjadi negatif pada Maret 2026 lalu.
Beberapa isu potensial yang muncul adalah terkait dengan tata kelola dan ada kecenderungan pelaporan yang terkonsentrasi, karena Danantara melapor langsung kepada presiden. Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa Danantara berpotensi digunakan untuk membiayai program-program pemerintah.
Misalnya, ketika ada kesenjangan antara anggaran dan kebutuhan belanja pemerintah, Danantara digunakan untuk menutup sebagian kebutuhan tersebut. Dalam melakukan penilaian, Fitch melihat kejelasan posisi Danantara sebagai sovereign wealth fund.
Jika sebuah entitas mengklaim sepenuhnya komersial tetapi kenyataannya tidak, maka ekspektasi bisa meleset. Hal ini bisa menimbulkan kejutan, karena keputusan investasi bisa dipengaruhi aspek politik, bukan semata-mata imbal hasil.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.320-Rp 17.380," ujarnya.
Sebagai informasi, pasar mempertimbangkan dampak keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk meninggalkan kelompok produsen OPEC. Keluarnya UEA yang akan berlaku efektif pada hari Jumat ini, merupakan pukulan besar bagi kelompok produsen minyak, di tengah gangguan yang terus-menerus akibat perang Iran. UEA mengatakan langkah tersebut bertujuan untuk lebih fokus pada "kepentingan nasionalnya."
Selain itu, AS akan memperpanjang blokade pelabuhan Iran, yang kemungkinan akan memperpanjang gangguan pasokan dari wilayah penghasil minyak utama di Timur Tengah tersebut. Presiden AS, Donald Trump, telah menginstruksikan para pembantunya untuk bersiap menghadapi perpanjangan blokade Iran.