- tvOnenews.com/Syifa Aulia
Ada Alasan Tersendiri Dedi Mulyadi Larang Ada Bangunan Tinggi Dekat Istana Cipanas, KDM: Demi Jaga Marwah Situs Sejarah
Jakarta, tvOnenews.com - Ternyata ada alasan tersendiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melarang adanya bangunan tinggi di dekat Istana Cipanas.
Menurut Kang Dedi Mulyadi atau KDM, bangunan tinggi di dekat istana tersebut berpotensi merusak estetika dan kewibawaan hingga mengancam aspek keamanan situs negara.
Dari alasan itulah Dedi Mulyadi menyiapkan Peraturan Gubernur (Pergub) soal pembatasan pembangunan bangunan tinggi seperti gedung dan hotel di area sekitar Istana Cipanas.
“Nanti saya buatkan Pergub-nya. Harus ada batasan radius, tidak boleh ada bangunan yang ketinggiannya melebihi istana atau desainnya merusak pandangan. Ini demi menjaga marwah situs sejarah kita,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja ke Istana Cipanas, Sabtu (9/5/2026).
Apabila banyak bangunan tinggi, KDM menilai hal itu sering kali mengabaikan aspek tata ruang dan kelestarian lingkungan.
Dia mengaku tidak ingin kawasan sekitar situs bersejarah itu terdampak kondisi seperti itu.
Bukan hanya bicara soal melarang adanya bangunan tinggi di dekat Istana Cipanas, Dedi Mulyadi juga bicara soal persoalan lingkungan di sekitar kawasan istana.
Salah satunya, yakni aliran Sungai Cisabuk dan Sungai Jalimun yang sering membawa sampah rumah tangga ke area istana saat hujan deras mengguyur.
Menurut dia, hal ini menyebabkan pintu air dan grill penahan sampah jebol.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana menurunkan petugas dari PSDA untuk membersihkan sungai secara rutin.
Di samping itu, dia juga berharap pola pikir masyarakat soal pengelolaan sampah bisa diubah.
“Saya akan siapkan petugas pembersih sungai setiap hari di sini. Sambil kita merubah pola pikir masyarakat melalui sistem pengelolaan sampah yang lebih baik,” kata KDM.
Selain itu, KDM turut menyoroti pentingnya menjaga kawasan hijau di sekitar Istana Cipanas.
Menurutnya, keberadaan pepohonan tua dan sumber air alami merupakan aset ekologis yang tidak tergantikan. Hal ini diungkapkannya ketika enyusuri area hutan lindung seluas 2,5 hektare.
“Membangun jalan tol ribuan kilometer saya sanggup, anggarannya ada. Tapi menanam pohon sampai besar dan rimbun seperti ini, uang tidak bisa membelinya. Ini kemewahan yang sebenarnya,” pungkasnya. (nsi)