- Antara
Rupiah Terus Bergejolak, DPR Ingatkan Bahaya Krisis Kepercayaan di Pasar Keuangan
Jakarta, tvOnenews.com - Gejolak nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan dinilai tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan teknis moneter semata. Di tengah kondisi pasar keuangan yang semakin sensitif, faktor kepercayaan investor disebut menjadi penentu utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia di Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Menurut Kholid, tekanan terhadap rupiah saat ini bukan hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga cara pemerintah dan otoritas ekonomi membangun persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Rupiah Bergejolak, Pasar Dinilai Sangat Sensitif
Kholid menilai pasar keuangan global saat ini bergerak sangat cepat dan sensitif terhadap berbagai informasi maupun sinyal kebijakan pemerintah.
Karena itu, komunikasi yang konsisten antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga otoritas fiskal dinilai menjadi sangat penting untuk menjaga ekspektasi pelaku pasar.
“Perlu ada strategic management ekspektasi. Bagaimana mengelola ekspektasi itu strategic. Jadi bukan hanya kebijakan teknis moneter, tapi manajemen ekspektasinya harus diperkuat,” ujar Kholid.
Menurut legislator Fraksi PKS tersebut, kondisi pasar saat ini tidak lagi hanya membaca data ekonomi yang sudah terjadi, melainkan lebih fokus memproyeksikan risiko ekonomi di masa depan.
Akibatnya, berbagai sentimen negatif dapat langsung mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal di pasar keuangan.
Investor Kini Lebih Fokus pada Risiko Masa Depan
Kholid menjelaskan bahwa pola pikir investor global saat ini telah berubah drastis dibanding beberapa tahun lalu.
Jika sebelumnya pasar lebih banyak mempertimbangkan data historis, kini investor justru lebih menilai arah kebijakan pemerintah serta potensi risiko ke depan sebelum mengambil keputusan investasi.
Ia bahkan menyinggung teori rational expectation yang diperkenalkan ekonom Robert Lucas untuk menggambarkan cara kerja pasar modern saat ini.
Menurutnya, pelaku pasar seperti investor besar, hedge fund hingga industri keuangan melakukan penilaian berdasarkan proyeksi risiko masa depan, bukan sekadar melihat kondisi ekonomi hari ini.