- tvOnenews - adinda
Pengakuan Mengejutkan Ilma Sani saat Dibawa ke Kantor Grib Jaya: Banyak Kata-kata Tidak Pantas
Jakarta, tvOnenews.com - Baru-baru ini mencuat pengakuan mengejutkan Ilma Sani Fitriana, Anak penulis Ahmad Bahar yang diduga diintimidasi Ketua Umum GRIB Jaya Rosario de Marshal alias Hercules dan anggotanya padanya saat dibawa ke Kantor Grib Jaya, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Dalam pengakuannya, dirinya mendapatkan kata-kata tidak pantas dan dipaksa copot jilbab, ditodong senjata api.
Sebelumnnya diketahui, anak penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana, melayangkan laporan terhadap Hercules dan anggota GRIB Jaya ke Polda Metro Jaya, pada Jumat (22/5/2026).
Hercules dilaporkan terkait dugaan penyekapan yang terjadi pada 17 Mei 2026, sementara itu Anggota GRIB Jaya dilaporkan akibat peristiwa jemput paksa.
Adapun laporan ini telah teregister dengan nomor STTLP/B/3678/V/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA dan nomor STTLP/B/3679/V/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 22 Mei 2026.
“Kami mendampingi Saudara Ilma Sani Fitriana untuk membuat laporan polisi di Polda Metro Jaya. Nah, pelaporan ini ada dua laporan rencananya. Yang pertama ditujukan kepada Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya, dan yang kedua adalah Unit Cyber Crime, atau Direktorat Reserse Kriminal Khusus Siber Polda Metro Jaya,” kata Kuasa Hukum Ilma, Gufroni, kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).
Lebih lanjut Gufroni menerangkan, laporan yang pertama yakni terkait dengan adanya dugaan tindakan pengepungan rumah, penculikan, penyanderaan, hingga ancaman dan verbal, kekerasan verbal.
“Kemudian ada penggunaan senjata api,, dan merendahkan klien kami, yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebagai Ormas GRIB, dan juga diduga dilakukan oleh ketua umumnya, dalam hal ini adalah Bapak Hercules,” ujar Gufroni.
Kemudian Gufroni menuturkan, atas peristiwa ini, kliennya merasa terguncang jiwanya dan mengalami ketakutan yang luar biasa. Bahkan, pada hari Minggu, 17 Mei 2026, Ilma dibawa paksa oleh sekelompok orang menuju markas GRIB Jaya Pusat.
“Di sana diinterogasi, dipaksa untuk mengakui bahwa Saudari Ilma yang melakukan pengiriman, pesan kepada Hercules dan istrinya yang berisikan ancaman-ancaman melalui WhatsApp-nya. Padahal itu bukan dilakukan oleh Ilma, dan sudah dijelaskan sebelum-sebelumnya bahwa handphone-nya diretas. Ya WA di-hack sehingga pada saat kejadian itu memang dia tidak bisa mengoperasikan handphone-nya,” terang Gufroni.
Kemudian Gufroni menerangkan, pelayangan laporan yang kedua yakni terkait peretasan handphone milik Ilma Sani Fitriana yang diduga menjadi penyebab Hercules marah.
“Ya, kami sudah punya bukti-bukti screenshot, tangkapan-tangkapan layar yang menunjukkan bahwa memang sebelum hari Minggu itu memang sudah ada operasi ya, sehingga handphone-nya tidak bisa digunakan,” jelasnya.
Di sisi lain, Ilma mengungkapkan, dirinya dipaksa copot jilbab, ditodong senjata api, hingga diancam akan telanjangi ayahnya.
"Beliau tidak percaya, akhirnya bilang kamu ini gimana sih, kamu kan perempuan kamu harusnya berbuat baik, copot saja itu jilbab kamu,” ujar Ilma sambil menangis di Komnas HAM, Jakarta pada Kamis (21/5/2026).
“Saya merasa tidak adil diperlakukan seperti ini, kalau misalnya Bapak kamu ada di sini sudah saya telanjangin Bapak kamu, nanti biar kamu yang videokan," lanjut ceritanya.
Saat rumahnya didatangi 4 orang anggota GRIB Jaya mencari ayahnya, Ahmad Bahar, Ilma tidak bisa menolak untuk ikut anak buah Hercules ke kantor GRIB Jaya.
Mereka memaksanya ikut dengan dalih bakal dibuatkan surat diatas materai untuk menjamin keselamatannya.
"Saya bilang tidak mau, akhirnya Pak RW datang dan Babinmas datang juga, mau tidak mau harus ikut karena kalau saya tidak ikut akan semakin banyak orang akan datang,” bebernya.
“Tadinya yang datang itu memang sekitar 4 orang, lama-lama bertambah banyak, saya takut kalau misalnya menek di rumah kenapa-napa dengan banyaknya orang yang datang," jelasnya.
Bahkan dia menjelaskan, pihak RT dan Babinmas menyebutkan jika dia tak ikut, dia bakal tetap diseret oleh anggota GRIB Jaya hingga akhirnya dia pun terpaksa mengikuti kemauan anggota GRIB Jaya tersebut ke Kantornya di kawasan Kedoya Selatan.
Singkatnya, dia lantas bertemu Hercules di kantor GRIB Jaya, disitu dia justru dituduh mengancam istrinya melalui pesan WhatsApp.
"Pak Hercules bilang, kamu nih ya ngapain ancam-ancam saya dan istri saya, saya bilang maaf Pak bukan saya, tapi beliau tetap tidak percaya, padahal saya juga sudah jelaskan sebelumnya sama tim anggota Grib itu, saya sudah bilang itu bukan saya, lagian saya siapa sih berani-beraninya ngancam beliau, urusan saya apa saya kenal saja enggak, tahu istrinya juga enggak," jelasnya.
Ia juga akui, telah menjelaskan pada anggota Grib Jaya dan Hercules jika nomornya itu di hack dan tidak melakukan pengancaman sebagaimana dituduhkan Hercules, hanya saja Hercules tidak mempercayainya. Saat itulah, dia mendapatkan perkataan kasar dan ancaman dari Hercules dan anggota GRIB Jaya.
Bahkan, kata dia, saat ditanyai Hercules, dia dikelilingi anggota GRIB Jaya berbadan besar hingga membuatnya ketakutan dan tidak bisa berkata banyak kala itu. Hercules kala itu merendahkannya untuk mencopot jilbabnya, mengancam dengan benda diduga senjata api, hingga mengancam akan menelanjangi ayahnya.
"Banyak kata-kata yang menurut saya tidak pantas, apalagi di situ posisinya saya dikelilingi kebanyakan laki-laki, besar-besar, saya sudah tidak bisa apa-apa, saya mau jawab juga sudah tidak bisa kalau memang itu bukan saya yang mengirim ancaman itu, tapi beliau tetap tidak percaya," paparnya.
Dia menjelaskan, Hercules memaksa dia menghubungi ayahnya untuk menjemputnya jika dia ingin kembali ke rumahnya. Adapun soal dugaan pengancaman yang dilakukannya ke istrinya sebagaimana dituduhkan Hercules, dia pun mempertanyakan mengapa tidak dilaporkan saja ke polisi untuk membuktikan.
"Cepat telepon Bapak kamu, minta dijemput sekarang sama Bapak kamu, kalau Bapak kamu tidak datang sekarang kamu tidak akan bisa pulang dari sini. Lagian kamu ngapain berani-beraninya ancam saya sambil dia keluarkan pistol itu, kamu lihat ini yah sambil tunjuk-tunjuk, saya pikir tidak akan sampai menembakkan begitu kan, ini saya tembakan, dor-dor dua kali dia tembakan," bebernya.
"Saya kan juga dari awal sudah bilang, saya tidak tahu apa-apa, itu bukan saya, tapi tetap saya yang disalahkan, saya merasa tidak adil. kalau misalnya memang itu dari akun saya dan dia merasa saya yang mengirimnya sudah laparkan (saja) ke polisi, saya siap diperiksa karena saya memang tidak bersalah," ungkap Ilma sambil menangis. (aag)