- tvOnenews - adinda
Ilma Sani vs Hercules, Koalisi Ormas Islam Pasang Badan untuk Anak Ahmad Bahar: Ini Masuk Tindak Pidana
Jakarta, tvOnenews.com - Di balik keberanian anak penulis Depok, Ahmad Bahar, Ilma Sani, yang melaporkan pentolan GRIB Jaya, Hercules, ternyata ada sejumlah ormas Islam yang menamakan diri sebagai Koalisi Ormas Islam, dan pasang badan untuk bela Ilma Sani dan keluarga Ahmad Bahar.
Selain itu, Ilma Sani melaporkan Hercules ke Polda Metro Jaya, bersama Koalisi Ormas Islam. Di mana, Hercules dilaporkan atas dugaan persekusi dan intimidasi terhadap anak penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana.
Salah seorang dari Koalisi Ormas Islam tersebut, yakni Ketua Bidang Riset dan Advokasi LBH AP PP Muhammadiyah, Gufroni, mengatakan pihaknya bakal membuat dua laporan ke Polda Metro Jaya.
“Pertama ditujukan kepada Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya, dan yang kedua adalah Unit Cyber Crime, atau Direktorat Reserse Kriminal Khusus Siber Polda Metro Jaya,” ucap kepada wartawan, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Laporan ini terkait dugaan pengepungan rumah hingga peristiwa penculikan dan penyanderaan.
“Kemudian ada ancaman verbal, kekerasan verbal, kemudian ada penggunaan senjata api, ya, dan merendahkan klien kami, yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebagai Ormas GRIB, dan juga diduga dilakukan oleh ketua umumnya, dalam hal ini adalah Bapak Hercules,” bebernya.
Sebelum membuat laporan polisi, lanjut Gufroni, pihaknya juga telah melaporkan hal ini kepada Komnas HAM dan Komnas Perempuan.
Sebab, lanjut Gufroni, anak dari Ahmad Bahar, Ilma, telah mendapat perlakuan yang tidak semestinya.
“Ya, mendapatkan kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan ormas tersebut, dan tentu ini membuat klien kami terguncang jiwanya. Ada ketakutan yang luar biasa, di mana pada saat hari Minggu, tanggal 17 Mei, Saudari Ilma dibawa paksa oleh sekelompok orang menuju markas GRIB Jaya Pusat,” katanya.
Saat disekap, Ilma mengaku dirinya dipaksa untuk mengakui telah melakukan ancaman terhadap Hercules dan istrinya. Namun hal itu, kata Gufroni, tidak dilakukan oleh Ilma.
“Itu bukan dilakukan oleh Ilma, dan sudah dijelaskan sebelum-sebelumnya bahwa handphone-nya diretas. Ya WA di-hack sehingga pada saat kejadian itu memang dia tidak bisa mengoperasikan handphone-nya,” jelasnya.
“Dan dari situlah kemudian ada katanya WA atau video-video yang berisi ancaman kepada Hercules dan istrinya,” imbuh Gufroni.
Dalam peristiwa itu, Ilma juga mendapat ancaman berupa senjata api. Kemudian, ia juga diduga mendapat ancaman letusan senjata api.
“Bagi kami, ini sudah masuk kepada tindak pidana, ya. Tindak pidana termasuk, ya, penyanderaan, kemudian penculikan, ancaman verbal, kemudian penggunaan senjata api dan segala macam,” ucapnya.
Maka dengan itu, kata dia, laporan kedua terkait dugaan peretasan ponsel. Peretasan ini, lanjut Gufroni, merupakan pangkal persoalan sehingga bisa terjadi dugaan penyekapan tersebut.
“Masalah peretasan handphone milik Saudari Ilma Sani Fitriana yang menjadi pangkal masalah sehingga Hercules marah besar, yang seolah-olah WA itu adalah dari klien kami, padahal itu bukan,” bebernya.
Gufroni juga menyertakan bukti-bukti berupa tangkapan layar yang menunjukkan bahwa ponsel tersebut tidak bisa dipergunakan.
“Jadi sudah berupaya untuk, apa namanya, ke pelayanan ya, untuk meminta bantuan supaya bisa dipulihkan handphone-nya dan seterusnya. Jadi ada bukti, sehingga nanti itu menjadi dasar kita buat laporan polisi,” pungkasnya. (aag)