news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Wamentrans Viva Yoga Mauladi.
Sumber :
  • Nadiyas Utami Pratiwi

Eks Transmigran di Marangkayu Kini Nikmati Hasil Karet hingga Rp4,5 Juta per Bulan, Wamentrans Siap Perjuangkan Pupuk Subsidi

Eks transmigran di Marangkayu, Kutai Kartanegara mulai merasakan peningkatan ekonomi dari kebun karet. Wamentrans siap perjuangkan pupuk subsidi.
Sabtu, 23 Mei 2026 - 21:57 WIB
Reporter:
Editor :

Marangkayu, tvOnenews.com - Pertumbuhan ekonomi masyarakat eks transmigran di wilayah Bunga Putih, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur mulai menunjukkan perkembangan positif seiring naiknya harga komoditas karet dalam beberapa waktu terakhir.

Puluhan tahun setelah pertama kali ditempatkan melalui program transmigrasi pada 1985, para warga yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur kini perlahan menikmati hasil perkebunan karet yang menjadi sumber penghidupan utama mereka.

Salah satu warga transmigran, Sugianto (64), mengatakan dirinya bersama warga lain pertama kali datang ke kawasan tersebut pada 28 Februari 1985 melalui program transmigrasi pemerintah.

Ia berasal dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sementara warga lainnya berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Lamongan hingga Banyuwangi.

“Kami ditempatkan di sini tahun 1985. Dulu dapat jatah lahan dari pemerintah,” ujar Sugianto saat berdialog dalam kunjungan Wakil Menteri Transmigrasi di kawasan transmigrasi Marangkayu.

Dapat Lahan 3 Hektare per Kepala Keluarga

Pada awal penempatan transmigrasi, setiap kepala keluarga mendapatkan total lahan sekitar 3 hektare. Rinciannya terdiri dari 2 hektare kebun plasma, 3/4 hektare lahan tanaman pangan, dan 1/4 hektare pekarangan.

Namun kondisi geografis wilayah yang dinilai kurang cocok untuk tanaman pangan membuat warga akhirnya mengubah sebagian besar lahan menjadi kebun karet secara mandiri.

“Karena lahannya tidak cocok untuk tanaman pangan, akhirnya ditanami karet semua,” katanya.

Pada masa awal transmigrasi, pengelolaan kebun plasma dilakukan oleh PTP 26 dengan sistem kredit hingga 30 tahun. Akan tetapi, menurut Sugianto, kondisi tanaman yang diterima warga saat itu tidak merata.

Ada kebun yang memiliki sekitar 300 pohon karet, sementara kategori terbaik atau kelas A mencapai sekitar 800 pohon.

Meski demikian, warga tetap bertahan dan mengembangkan kebun mereka secara swadaya hingga sekarang.

Harga Karet Naik, Penghasilan Warga Ikut Meningkat

Setelah bertahun-tahun menghadapi harga karet yang rendah, kondisi ekonomi petani kini mulai membaik.

Sugianto mengungkapkan sebelumnya harga karet hanya berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram dan berlangsung cukup lama. Kondisi itu membuat rata-rata pendapatan petani hanya sekitar Rp2,5 juta per bulan.

Kini, harga karet mengalami kenaikan hingga mencapai Rp15.500 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan warga transmigran yang sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil sadap karet.

“Sekarang alhamdulillah bisa meningkat. Penghasilan bisa Rp3 juta sampai Rp4,5 juta per bulan,” ujarnya.

Peningkatan pendapatan itu dinilai memberi harapan baru bagi masyarakat eks transmigran yang selama ini bertahan secara mandiri tanpa banyak pendampingan.

Infrastruktur Jalan Produksi Masih Jadi Kendala

Di balik mulai membaiknya ekonomi warga, para petani masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, terutama infrastruktur jalan produksi.

Menurut Sugianto, akses jalan menuju kebun hingga kini belum mendapatkan perhatian maksimal sehingga menyulitkan aktivitas distribusi hasil kebun masyarakat.

“Kendala kami itu jalan produksi. Selama ini belum pernah dipikirkan pemerintah,” katanya.

Selain infrastruktur, warga juga berharap adanya dukungan sarana produksi seperti alat perawatan kebun hingga pupuk.

Para petani mengaku selama ini menjalankan seluruh aktivitas perkebunan secara mandiri tanpa bantuan subsidi pupuk dari pemerintah.

“Kami juga berharap ada bantuan pupuk dan sarana produksi untuk petani,” ujarnya.

Wamentrans Siap Perjuangkan Pupuk Subsidi untuk Petani Karet

Menanggapi aspirasi warga, Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyatakan siap memperjuangkan pupuk subsidi bagi petani karet rakyat.

Menurut Viva Yoga, sekitar 90 persen perkebunan karet di Indonesia merupakan milik rakyat sehingga sudah seharusnya petani mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.

“Kalau kemampuan fiskal dan moneter pemerintah mencukupi, kami akan berjuang agar petani karet rakyat juga mendapatkan pupuk subsidi,” ujarnya saat berada di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara.

Ia menjelaskan saat ini komoditas karet memang belum termasuk dalam daftar penerima pupuk subsidi pemerintah. Subsidi pupuk masih difokuskan untuk komoditas pangan seperti padi, jagung, dan singkong.

Meski begitu, pemerintah disebut akan terus mendorong agar komoditas karet juga masuk dalam skema subsidi nasional.

Menurutnya, dukungan pupuk dan program peremajaan kebun atau replanting akan meningkatkan produktivitas karet nasional.

“Kalau ada bantuan pupuk, peremajaan, pengendalian hama, dan teknik penyadapan yang lebih baik, produksi lateks akan meningkat,” katanya.

Petani Karet Dinilai Punya Peran Penting bagi Ekonomi Nasional

Viva Yoga menilai petani karet memiliki kontribusi besar terhadap kebutuhan industri dan kehidupan masyarakat, terutama untuk berbagai produk berbahan dasar karet seperti ban kendaraan.

Karena itu, pemerintah berupaya menghidupkan kembali Gerakan Nasional Karet agar kesejahteraan petani semakin meningkat.

“Kami ingin ada jaminan pendapatan bagi petani, ada pelatihan teknologi penyadapan, dan bantuan untuk meningkatkan produksi,” ujarnya.

Kunjungan pemerintah pusat ke kawasan transmigrasi di Marangkayu juga disambut antusias warga. Mereka mengaku baru pertama kali didatangi langsung oleh pejabat tingkat pusat setelah puluhan tahun tinggal dan bertani di wilayah tersebut.

“Selama ini baru pertama kami didatangi Pak Wamen dan Pak Dirjen. Kami sangat senang,” kata salah satu warga transmigran. (nsp)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:17
12:40
03:47
02:02
05:02
04:25

Viral