- Pixabay
Penjualan Mobil Listrik NMC Naik 177 Persen di 2025, Pakar Desak Insentif Jangka Panjang
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat Energi sekaligus Project Coordinator ENTREV, Eko Adji Buwono, menilai insentif khusus untuk kendaraan listrik berbasis nickel manganese cobalt (NMC) menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem kendaraan listrik berbasis sumber daya alam dalam Negeri.
Ke depannya, kebijakan insentif ini diharapkan tidak hanya menyasar konsumen kendaraan listrik, tetapi juga harus diberikan secara menyeluruh kepada rantai industri hulu hingga hilir kendaraan listrik baterai NMC, mulai dari smelter, precursor, cathode, hingga manufaktur sel baterai.
Adapun pemerintah memiliki rencana pemberian subsidi kendaraan listrik dengan alokasi 200 ribu unit untuk motor dan mobil listrik. Subsidi kendaraan listrik yang rencananya bergulir mulai Juni 2026 ini, bertujuan untuk mengurangi impor serta konsumsi BBM dalam jangan panjang.
Berdasarkan skema yang sedang disiapkan, pemerintah akan memberikan insentif antara lain PPN DTP sebesar 100% untuk mobil listrik berbasis baterai nikel atau nickel manganese cobalt (NMC), PPN DTP sebesar 40% untuk mobil listrik dengan baterai selain nikel, dan Subsidi pembelian motor listrik sebesar Rp5 juta per unit.
“Insentif jangka panjang masih sangat penting dan masih diperlukan supaya ada kepercayaan industri pengguna baterai kendaraan listrik terhadap kepastian rantai pasok dan harga yang kompetitif,” kata Eko.
Eko menyampaikan pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang konsisten dalam jangka panjang, setidaknya selama 3–5 tahun, agar pelaku industri memiliki kepastian dalam berinvestasi dan membangun rantai pasok industri baterai kendaraan listrik berbasis NMC di dalam Negeri.
Terlebih, pasar kendaraan listrik Indonesia sendiri terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), total penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024 dan melonjak menjadi 114.413 unit sepanjang 2025.
Pertumbuhan tersebut masih didominasi kendaraan listrik dengan baterai lithium iron phosphate (LFP) dengan penjualan EV berbasis LFP mencapai 46.814 unit atau 83,3 persen dari total pasar pada 2024. Sementara kendaraan berbasis NMC/NCMA hanya mencapai 9.390 unit atau 16,7 persen.
Namun pada 2025, dominasi LFP memang mulai sedikit menurun dan menguasai pasar dengan penjualan 88.344 unit atau 77,2 persen. Sementara kendaraan berbasis NMC meningkat menjadi 26.069 unit atau 22,8 persen dari total penjualan EV nasional.
Data tersebut menunjukkan kendaraan berbasis NMC mulai tumbuh lebih cepat. Penjualan EV berbasis NMC tercatat melonjak 177,6 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibanding pertumbuhan LFP sebesar 88,7 persen.
Eko menilai momentum pertumbuhan tersebut perlu dijaga melalui kebijakan fiskal yang komprehensif guna mendukung pengembangan ekosistem baterai NMC nasional.
Dari sisi fiskal, pemerintah harus memberikan berbagai stimulus seperti PPnBM Ditanggung Pemerintah (DTP), pembebasan bea masuk, hingga PPN DTP yang dikaitkan langsung dengan pengembangan teknologi baterai NMC beserta seluruh komponennya.
Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan tax allowance maupun royalty allowance bagi industri precursor berbasis sumber daya alam mineral logam dan logam dalam negeri.
Lebih lanjut, Indonesia perlu mempercepat pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) baterai NMC di Indonesia bagian timur hingga menghasilkan produk hilir yang terintegrasi.
“Pembangunan KEK baterai NMC perlu diteruskan sampai jadi produk hilir yang terintegrasi, termasuk membangun infrastruktur fasilitas impor-ekspor maupun distribusi produksi,” ujar Eko. (aag)