news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi hujan deras..
Sumber :
  • Antara

El Nino Makin Menguat, Tapi Hujan Deras Masih Mengguyur RI? Ternyata Ini Penyebabnya

BMKG menjelaskan alasan hujan deras masih mengguyur Indonesia meski El Nino mulai menguat. Faktor laut hangat dan cuaca lokal jadi pemicunya.
Selasa, 26 Mei 2026 - 21:20 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Fenomena El Nino mulai menunjukkan penguatan di wilayah Pasifik. Namun di tengah ancaman musim kering dan kekeringan, sejumlah wilayah Indonesia justru masih diguyur hujan deras bahkan cuaca ekstrem.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di masyarakat, mengapa hujan lebat masih terjadi saat El Nino mulai berkembang?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika iklim tropis yang kompleks dan tidak terjadi secara instan.

Berdasarkan data BMKG, indeks Niño 3.4 pada dasarian II Mei 2026 tercatat berada di angka +0,97. Angka tersebut mendekati ambang El Nino moderat yang biasanya identik dengan penurunan curah hujan di Indonesia.

Meski begitu, dampak El Nino disebut tidak langsung membuat hujan berhenti total di berbagai wilayah.

BMKG: El Nino Tidak Langsung Menghilangkan Hujan

BMKG menjelaskan El Nino bukan seperti “tombol” yang ketika aktif langsung menghentikan hujan.

Dampak El Nino terjadi secara bertahap karena adanya proses interaksi antara laut dan atmosfer atau ocean-atmosphere coupling yang membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga beberapa bulan.

Proses tersebut diperlukan untuk mengubah pola sirkulasi angin global hingga akhirnya benar-benar memicu kondisi kering di Indonesia.

Karena itu, hujan deras hingga cuaca ekstrem masih bisa muncul pada fase awal perkembangan El Nino seperti saat ini.

Laut Hangat Jadi Penyebab Hujan Deras Masih Terjadi

BMKG menyebut salah satu faktor utama hujan lebat masih mengguyur Indonesia adalah kondisi suhu perairan lokal yang masih hangat.

Di Sulawesi Tengah misalnya, wilayah Laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Laut Maluku masih memiliki suhu permukaan laut yang hangat.

Kondisi tersebut menyebabkan tingkat penguapan tetap tinggi dan menjadi bahan bakar pembentukan awan konvektif tebal jenis Cumulonimbus.

Awan inilah yang memicu hujan ekstrem, badai petir, hingga banjir bandang di sejumlah wilayah.

Artinya, meskipun suhu di Pasifik tengah terus menghangat akibat El Nino, faktor laut lokal di Indonesia masih mampu memicu hujan lebat.

Dampak El Nino Mulai Berbeda di Tiap Wilayah

BMKG menjelaskan dampak El Nino tidak terjadi merata di semua daerah.

Di wilayah Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah, hujan lebat masih sering turun akibat pengaruh lokal Teluk Palu serta konveksi pegunungan. Namun tren defisit hujan diperkirakan mulai menguat pada Juni 2026.

Sementara di Parigi Moutong dan Banggai, pola cuaca kering mulai terasa meski hujan ekstrem sesekali masih terjadi.

Adapun wilayah Poso dan Tojo Una-Una diperkirakan masih mengalami hujan lokal karena faktor topografi pegunungan. Meski demikian, debit sungai diprediksi turun drastis pada Agustus hingga September mendatang.

Tolitoli dan Buol juga disebut relatif lebih basah akibat pengaruh monsun barat. Namun ancaman kekeringan tetap membayangi jika El Nino terus berlanjut hingga akhir tahun.

BMKG Minta Masyarakat Waspada Ganda

Melihat kondisi tersebut, BMKG meminta masyarakat menerapkan “kewaspadaan ganda”.

Artinya, masyarakat harus tetap waspada terhadap ancaman banjir dan longsor dalam jangka pendek, sekaligus bersiap menghadapi potensi kekeringan dalam beberapa bulan ke depan.

BMKG merekomendasikan pengisian embung, waduk, dan danau dimaksimalkan selama hujan masih berlangsung.

Beberapa kawasan seperti Danau Poso dan Danau Lindu dinilai penting sebagai cadangan air saat musim kering tiba.

Selain itu, jalur Trans Sulawesi terutama kawasan Kebun Kopi yang menghubungkan Palu dan Parigi Moutong juga diminta waspada karena rawan longsor saat hujan deras.

Wilayah Pertanian Diminta Bersiap Hadapi Musim Kering

BMKG juga mengingatkan wilayah lumbung pangan seperti Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong agar mulai menyesuaikan pola tanam menghadapi ancaman kekeringan.

Petani disarankan beralih ke tanaman palawija seperti jagung, kedelai, dan umbi-umbian yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di kawasan Lembah Palu yang dikenal memiliki curah hujan tahunan rendah dan sangat rentan kebakaran saat El Nino berlangsung.

El Nino Menguat, Tapi Cuaca Ekstrem Masih Bisa Terjadi

BMKG menegaskan indeks Niño 3.4 yang kini positif menjadi sinyal bahwa curah hujan bulanan ke depan berpotensi berada di bawah normal.

Namun kondisi tersebut tidak menghilangkan ancaman cuaca ekstrem harian.

Hujan deras berdurasi singkat, badai lokal, petir, hingga banjir bandang masih dapat terjadi sewaktu-waktu di tengah perkembangan El Nino yang saat ini terus menguat. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:36
04:36
05:49
03:15
02:13
01:30

Viral