- Julio Trisaputra-tvOne
Harga Cabai, Bawang hingga Beras Meroket, Inflasi Bahan Pokok Tembus 6,24 Persen
Jakarta, tvOnenews.com - Setelah sempat mereda pada bulan April, inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) melonjak tajam pada Mei 2026 seiring terganggunya produksi akibat cuaca ekstrem, berakhirnya musim panen raya, dan meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Data Bank Indonesia menunjukkan kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026. Angka ini berbalik arah dibandingkan April 2026 yang masih mencatat deflasi sebesar 0,88 persen.
Lonjakan harga terutama terjadi pada sejumlah komoditas strategis yang menjadi kebutuhan utama masyarakat, mulai dari cabai merah, bawang merah, tomat hingga beras.
Kombinasi penurunan pasokan dan meningkatnya konsumsi menjadi pemicu utama kenaikan harga di pasar.
- Julio Trisaputra-tvOne
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, tekanan inflasi pangan dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan komoditas utama di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.
“Inflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras seiring penurunan pasokan yang disebabkan oleh gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan berakhirnya musim panen raya di tengah kenaikan permintaan pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Secara tahunan, tekanan pada kelompok pangan bahkan meningkat lebih tajam. Inflasi volatile food tercatat mencapai 6,24 persen (year on year/yoy), hampir dua kali lipat dibandingkan April 2026 yang berada di level 3,37 persen.
Kenaikan tersebut menunjukkan sektor pangan masih menjadi titik paling rentan terhadap gangguan cuaca dan perubahan pola produksi nasional.
Ketika pasokan menyusut, harga komoditas strategis bergerak cepat naik dan langsung memengaruhi daya beli masyarakat.
Di sisi lain, inflasi inti masih relatif terjaga. Pada Mei 2026, inflasi inti tercatat sebesar 0,22 persen secara bulanan, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,23 persen.
Meski demikian, Bank Indonesia mencatat adanya tekanan harga pada sejumlah komoditas konsumsi, terutama minyak goreng.
“Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi terutama oleh kenaikan harga minyak goreng di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga,” ujar Ramdan.
Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,59 persen, meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,44 persen.
Kenaikan ini mengindikasikan adanya tekanan harga yang mulai merambat ke kelompok barang dan jasa yang lebih luas, meski masih berada dalam level yang terkendali.
Menghadapi potensi gejolak harga pangan ke depan, Bank Indonesia optimistis inflasi tetap dapat dijaga melalui koordinasi erat dengan pemerintah pusat dan daerah.
“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID, serta penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS),” kata Ramdan. (agr/muu)