- ANTARA
Tekanan Rupiah dari Dalam Negeri, Pengamat Sebut Ada Utang Jatuh Tempo Sebesar Rp600 Triliun
Jakarta, tvOnenews.com - Tekanan terhadap rupiah ternyata tidak hanya datang dari gejolak global dan lonjakan harga minyak dunia.
Dari dalam negeri, kebutuhan dolar yang terus meningkat untuk impor energi, pembayaran dividen, hingga utang jatuh tempo ratusan triliun rupiah disebut ikut memperlemah posisi mata uang RI.
Di tengah pelemahan rupiah ke level Rp17.926 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026), perhatian pasar kini tertuju pada sederet faktor domestik yang dinilai semakin memperbesar permintaan valuta asing di pasar keuangan nasional.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak langsung terhadap kebutuhan dolar Indonesia sebagai negara pengimpor energi.
“Dari segi internal sendiri kita melihat bahwa apa kenaikan harga minyak mentah ini membuat permintaan dolar cukup tinggi, terutama adalah untuk impor minyak yang begitu besar ya kemudian kebutuhan dolar ya untuk dividen,” kata Ibrahim saat dihubungi, Rabu (3/6/2026).
Selain kebutuhan impor dan pembayaran dividen kepada investor asing, Ibrahim menyoroti besarnya kewajiban utang yang jatuh tempo pada tahun ini. Menurutnya, faktor tersebut ikut meningkatkan tekanan terhadap permintaan dolar di pasar.
“Kemudian utang jatuh tempo ya yang sebesar Rp600 triliun bunganya saja yang kita melihat sedang ramai. Kalo katanya utang-utang dibayar dengan utang, ya harus ingat bahwa dari zaman Megawati (Soekarnoputri) memang seperti itu,” ujarnya.
Ia menilai polemik mengenai praktik pelunasan utang melalui penerbitan utang baru sebenarnya bukan hal baru dalam pengelolaan fiskal pemerintah.
“Pada saat jatuh tempo utang, surat utang negara dibeli lagi sama Bank Indonesia, jadi utang dibayar dengan utang. Jadi kalo misal ini menjadi polemik ya tidak, itu memang seperti itu ya,” kata Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah juga disebut datang dari perubahan perilaku masyarakat yang mulai mengalihkan sebagian dananya ke instrumen berbasis valuta asing. Fenomena tersebut dinilai memperbesar permintaan dolar di pasar domestik.
“Nah, di sisi lain pun juga masyarakat ini sekarang terus memindahkan dananya juga ya dari tabungan konvensional menjadi tabungan valas,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, kombinasi berbagai faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat dalam beberapa waktu terakhir.
“Ini yang membuat apa harga-harga juga terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” katanya.
Di tengah tekanan yang terus meningkat, Ibrahim menilai pemerintah perlu mencari sumber pembiayaan eksternal tambahan untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar.
“Nah, kita juga harus tahu bahwa salah satu yang strategi sebenarnya pemerintah agar apa rupiah ini menguat, yang pertama secara eksternal pemerintah harus mencari utang baru,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut lembaga keuangan internasional masih membuka ruang pembiayaan bagi Indonesia apabila diperlukan.
“Ya utang baru Bank Dunia, IMF sudah memberikan warning ya kalo seandainya pemerintah Indonesia membutuhkan pinjaman, Bank Dunia maupun IMF ya siap untuk membantu Indonesia dalam kondisi saat ini. Itu segi eksternalnya kalo pemerintah mau meminta bantuan untuk pinjaman,” kata Ibrahim. (agr/muu)