- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Purbaya Ungkap Angka Fantastis yang Membuat Keraguan terhadap Ekonomi RI Terpatahkan, Investor Masih Percaya Indonesia
Jakarta, tvOnenews.com — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah berbagai sentimen negatif yang beredar di pasar.
Indikasinya terlihat dari derasnya arus modal asing yang masuk ke instrumen keuangan domestik, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Hingga 3 Juni 2026, pemerintah mencatat arus modal asing masuk (inflow) mencapai Rp60,9 triliun. Aliran dana tersebut didominasi investasi pada instrumen pendapatan tetap dan surat berharga berbasis rupiah yang dinilai mencerminkan keyakinan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan inflow ke SBN mencapai Rp14,4 triliun dan SRBI sebesar Rp70,1 triliun. Di saat yang sama, tercatat outflow dari SBN sebesar Rp10,8 triliun dan outflow pasar saham sebesar Rp23,5 triliun.
Meski pasar saham masih mengalami tekanan, Purbaya menilai gambaran besar pergerakan modal asing justru menunjukkan sentimen positif terhadap ekonomi Indonesia. Menurut dia, posisi arus modal bersih pada kuartal II-2026 masih berada di zona positif.
“Yang penting kita lihat nett-nya kuartal II-2026 masih positif. Jadi ini menjawab keraguan banyak orang. Kalau kita lihat di sini optimismenya masih ada ekonominya masih tumbuh jadi jangan terlalu termakan satu pemberitaan saja,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Ia menegaskan minat investor asing terhadap instrumen berbasis rupiah masih sangat kuat, terutama pada SRBI dan obligasi pemerintah.
“SRBI maupun di bond masih signifikan inflow nya,” tutur Purbaya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar keuangan global.
Namun, masuknya dana asing ke instrumen surat utang dan SRBI dinilai menjadi sinyal bahwa investor masih melihat fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.
Selain dari sisi pasar keuangan, optimisme pemerintah juga didasarkan pada indikator sektor riil yang mulai menunjukkan perbaikan. Salah satunya terlihat dari aktivitas manufaktur yang kembali memasuki fase ekspansi.
Purbaya mengungkapkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia kini kembali berada di level 50, yang menandakan aktivitas industri mulai tumbuh setelah sebelumnya berada di zona kontraksi.
“Maret, April Mei balik lagi 50, jadi ada perbaikan di sektor manufaktur di bulan-bulan ke depan kita lumayan Indonesia 50. Artinya kalau lihat Amerika Serikat (AS), India, Jepang itu di atas 50 semua sudah ekspansi lagi,” jelasnya.
“Artinya global economic tumbuh artinya internasional demand membaik dan pelan-pelan pasti akan berdampak ke ekspor kita,” sambung Purbaya. (agr/cmi)