- Istimewa
Iran-AS Damai, Pengamat Sebut Bank Sentral Dunia Gencar Borong Emas: Harga Kembali Naik
Jakarta, tvOnenews.com - Meredanya ketegangan di Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar global.
Di tengah perang yang masih berlangsung di Timur Tengah dan Eropa Timur, bank-bank sentral dunia justru diperkirakan akan terus meningkatkan pembelian emas sebagai instrumen perlindungan terhadap gejolak ekonomi dan geopolitik.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketidakpastian global yang masih tinggi menjadi faktor utama yang menopang permintaan logam mulia dalam jangka panjang.
Menurut Ibrahim, konflik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan strategis dunia membuat emas tetap menjadi aset yang paling diburu oleh investor maupun bank sentral.
“Kita melihat bahwa perang yang terjadi di Timur Tengah, di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, ini salah satu yang memicu harga emas dunia akan kembali naik,” kata Ibrahim saat dihubungi, Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan tren akumulasi emas saat ini tidak hanya dilakukan investor individu, tetapi juga bank sentral berbagai negara yang mulai memperbesar porsi emas dalam cadangan devisanya.
“Logam mulia akan naik ya karena permintaan untuk cadangan emas dunia ini semakin meningkat, terutama adalah dari negara-negara besar seperti Tiongkok, India, Eropa,” ujarnya.
Tiongkok menjadi salah satu negara yang paling agresif melakukan pembelian emas. Ibrahim mengungkapkan Bank Sentral Tiongkok kembali menambah cadangan emasnya sepanjang Mei lalu dan diperkirakan akan melanjutkan pembelian pada bulan ini.
“Kita lihat bahwa Tiongkok di bulan Mei ya itu mengumpulkan ya emas batangan itu sebesar 10 ton. Total untuk yang dimiliki oleh Bank Sentral Tiongkok sampai saat ini itu adalah 2.332 ton yang kemungkinan besar di bulan Juni ini pun juga akan terus mengalami kenaikan di atas 10 ton,” katanya.
Tren serupa juga mulai terlihat di Indonesia. Ibrahim menyebut Bank Indonesia telah melakukan pembelian emas batangan pada awal kuartal kedua tahun ini sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
“Kemudian Bank Indonesia juga ya, di awal-awal kuartal kedua ini sudah melakukan pembelian terhadap emas batangan sebesar 2 ton,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, langkah tersebut menjadi sinyal perubahan strategi setelah sebelumnya Bank Indonesia lebih banyak melakukan pelepasan cadangan emas. Penurunan harga logam mulia dinilai menjadi momentum yang dimanfaatkan untuk memperkuat komposisi cadangan devisa nasional.
“Artinya apa? Bahwa sebelum-sebelumnya Bank Indonesia menjual, ya menjual emas batangannya, rupanya apa? Pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan bagi Bank Indonesia untuk mendiversifikasi cadangan devisanya dengan menggunakan emas batangan atau logam mulia sebesar 2 ton,” jelasnya.
Ibrahim juga mengutip proyeksi JP Morgan yang memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral global akan meningkat signifikan sepanjang tahun ini meskipun Selat Hormuz telah dibuka kembali dan jalur perdagangan energi mulai normal.
“Nah, JP Morgan sendiri mengatakan bahwa pasca Selat Hormuz dibuka oleh Iran kemudian Laut Oman dibuka oleh Amerika Serikat, ada kemungkinan besar ya peningkatan terhadap pembelian untuk logam mulia terutama oleh Bank Sentral global sebesar 800 ton untuk tahun 2026,” katanya.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa bank sentral dunia masih melihat risiko global yang cukup besar meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda.
“Nah, tujuan dari pembelian tersebut adalah diversifikasi cadangan devisa ya yang terjadi akibat ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik walaupun ya di Timur Tengah masih memanas,” tegas Ibrahim.
Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang akan ditandatangani secara resmi di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni mendatang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengonfirmasi kesepakatan tersebut dan mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. (agr/muu)