- Antara
BPS Catat Impor Plastik dan Barang dari Plastik Indonesia Capai 1,65 Juta Ton
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor plastik dan barang dari plastik Indonesia mencapai 1,65 juta ton dengan nilai sekitar Rp44,11 triliun pada kuartal I 2026.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengembangan inovasi material lokal, peningkatan kapasitas daur ulang, serta penerapan teknologi polimer yang lebih efisien untuk memperkuat ketahanan rantai pasok industri nasional.
Dengan begitu tekanan terhadap biaya bahan baku dan dinamika rantai pasok global semakin memperkuat kebutuhan industri Indonesia terhadap inovasi material yang lebih efisien, berkelanjutan, dan memiliki nilai tambah tinggi.
Himpunan Polimer Indonesia (HPI) menilai bahwa inovasi polimer kini telah menjadi kebutuhan strategis industri, bukan hanya agenda penelitian.
Prof. M Chalid selaku Ketua Himpunan Polimer Indonesia menyatakan Indonesia memiliki potensi besar melalui sumber daya manusia, kapasitas riset, dan pengalaman industri dalam bidang polimer.
Namun, tantangan berikutnya adalah mempercepat hilirisasi agar hasil inovasi dapat diterapkan dan memberikan nilai tambah bagi industri.
"Kolaborasi antara akademisi, peneliti, industri, masyarakat dan pemerintah menjadi kunci untuk menjembatani kebutuhan pasar dengan pengembangan teknologi yang mendukung efisiensi, ekonomi sirkular, dan kemandirian industri nasional,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Sementara itu, Meysia Stephannie menambahkan, industri polimer memang memiliki peran penting dalam mendukung berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur, otomotif, elektronik, hingga kemasan.
Dia juga menyampaikan bahwa kebutuhan terhadap inovasi polimer semakin relevan seiring meningkatnya tekanan terhadap rantai pasok bahan baku.
"Kami berharap ada keinginan memperkuat kolaborasi antara dunia riset dan industri agar inovasi dapat memberikan dampak nyata bagi perkembangan industri nasional," ungkapnya.
Adapun, kajian LPEM FEB UI bertajuk “Krisis Plastik Nasional di Tengah Shock Global”, yang dipublikasikan pada April 2026 mencatat sejumlah resin utama mengalami kenaikan harga sepanjang 2026, dengan polypropylene (PP) meningkat 23,8%, polyethylene (PE) 16,3%, dan polyvinyl chloride (PVC) 11% dibandingkan tahun sebelumnya.
Perubahan tersebut dipengaruhi dinamika pasar energi dan industri petrokimia global yang berdampak terhadap biaya produksi berbagai sektor pengguna material polimer.