news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Infografis Neraca Perdagangan.
Sumber :
  • dok. Bank Indonesia

Defisit Neraca Dagang Tembus US$1,61 Miliar, Bank Indonesia Sebut Migas Jadi Biang Keladi

Kondisi ini dipicu oleh penurunan ekspor migas yang lebih besar dibandingkan penurunan impor migas, sehingga memperlebar tekanan pada neraca perdagangan secara keseluruhan.
Jumat, 3 Juli 2026 - 12:42 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Neraca perdagangan Indonesia berbalik mencatat defisit pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit mencapai US$1,61 miliar, terutama dipicu membengkaknya defisit sektor minyak dan gas (migas), meski ekspor nonmigas masih menunjukkan ketahanan dan tetap menghasilkan surplus.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan, pelemahan neraca perdagangan pada Mei sepenuhnya dipengaruhi memburuknya kinerja perdagangan migas, sementara sektor nonmigas masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Indonesia.

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar,” kata Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7/2026).

Menurut BI, defisit tersebut terjadi karena defisit neraca perdagangan migas meningkat tajam menjadi US$3,76 miliar. 

Kondisi ini dipicu oleh penurunan ekspor migas yang lebih besar dibandingkan penurunan impor migas, sehingga memperlebar tekanan pada neraca perdagangan secara keseluruhan.

Di sisi lain, perdagangan nonmigas masih menunjukkan daya tahan. Pada Mei 2026, neraca perdagangan nonmigas membukukan surplus sebesar US$2,15 miliar dengan nilai ekspor mencapai US$22,44 miliar.

Kinerja tersebut terutama ditopang ekspor berbasis sumber daya alam, khususnya komoditas bahan bakar mineral serta nikel dan barang daripadanya yang masih menjadi andalan ekspor Indonesia di tengah dinamika perdagangan global.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama terhadap kinerja ekspor nasional.

Meski neraca perdagangan pada Mei mengalami defisit, secara kumulatif kondisi perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih berada di zona positif dengan surplus sebesar US$4,03 miliar. 

Capaian tersebut menunjukkan ketahanan sektor eksternal Indonesia masih terjaga berkat kuatnya kontribusi ekspor nonmigas.

Menghadapi tantangan global ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai otoritas untuk menjaga stabilitas sektor eksternal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujar Ramdan. (agr/muu)

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:45
01:26
02:49
12:28
12:21
24:37

Viral