- Antara
Kasus Santri Dibakar Senior, Sebenarnya Faktor Kesengajaan atau Kelalaian?
Adapun tiga santri yang menjadi korban dalam peristiwa kebakaran di dalam ruangan tersebut, di antaranya bernama Sahril Sobirin, Sahid Al Hudri, serta Ahmad Deven Ramadhan.
"Mereka tidak bisa keluar. Hingga kemudian ada orang dari luar yang mendobrak kamar itu dan akhirnya korban bisa diselamatkan," jelasnya.
Sayangnya ketiga korban mengalami luka bakar mencapai di atas rata-rata 85 persen. Akan tetapi, kondisi satu santri bernama Sahril terus mengalami penurunan hingga pada akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Februari 2026, tepat sehari sebelum Ramadhan 2026.
Sementara, berdasarkan dari data kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lombok Tengah, NTB yang tertuang dalam surat resmi Nomor B-043/Kk.18.02/3/PP.00.07/06/2026, kronologi kejadian ini bermula saat kelima santri tersebut berkumpul di waktu istirahat pada pukul 13.45 Wita.
Mereka rencananya akan membuat ketapel. Sontak, terlapor menyuruh temannya membeli bensin guna meluruskan kayu bengkok sebagai bahan pembuatan ketapel.
Kelima santri itu masuk ke sebuah ruangan dan mengunci pintu agar aktivitas mereka aman dan tidak diketahui pengasuh hingga pimpinan pondok pesantren.
Tragedi terjadi setelah bensin di dalam mika yang terbakar tersenggol. Kelalaian ini membuat api terkena kasur bekas pengasuh pondok pesantren yang dulu dan sudah tidak terpakai.
Dari dua versi kronologi ini, Polda NTB masih terus melakukan penyelidikan lebih dalam. Terkini, polisi telah menaikkan status kasus tersebut ke tahap penyidikan.
Kapolda NTB, Irjen Pol Kalingga Raharja mengatakan, pihaknya berupaya akan menetapkan status tersangka pada pekan ini. Hal tersebut bertujuan untuk menjawab pertanyaan dari masyarakat mengenai kejelasan kasus santri dibakar senior.
"Kami berupaya semaksimal mungkin agar pekan ini tersangka dapat ditetapkan dan diumumkan," ungkap Kalingga.
(hap)