- tvOnenews.com/Wildan Mustofa
Apa Saja Hasil Autopsi Motif Kematian Dokter PPDS Alex Cristo Loris Ditemukan Tewas di Semak-semak RSUD Siak?
Siak, tvOnenews.com - Kasat Reskrim Polres Siak, AKP Raja Kosmos Parmulais mengungkapkan hasil autopsi jenazah dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) residen anestesi di RSUD Tengku Rafian, Siak, Alex Cristo Loris (30).
Raja menyampaikan hasil autopsi menyusul penemuan jenazah dokter PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Riau (UNRI) tersebut. Alex ditemukan tewas di semak belukar pada Selasa (14/7/2026).
Kematian Alex yang tak wajar membuat pihak kepolisian langsung membawa jenazah dokter PPDS Anestesiologi ke RS Bhayangkara. Adapun hasil autopsi sementara keluar pada pukul 22.00 WIB.
Apa Saja Hasil Autopsi Kematian Dokter PPDS Alex Cristo Loris?
- Instagram/@fkunri_official
Raja mengatakan bahwa, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan tim dokter forensik. Akan tetapi, polisi masih belum bisa memutuskan motif kematian Alex.
"Koordinasi dengan dokter forensik itu belum bisa menyimpulkan penyebab kematian terhadap korban karena dibutuhkan pemeriksaan laboratorium," ujar Raja saat dihubungi tvOne, Jumat (17/7/2026).
Dari hasil histopatologi forensik yang berpacu pada pemeriksaan mikroskopis terhadap sel dan jaringan tubuh, polisi mengirimkan sebanyak enam sampel. Sementara, toksikologi forensik yang dikirim sebanyak tujuh sampel sebagai kebutuhan di laboratorium.
"Ini untuk menentukan penyebabkematiannya sehingga untuk hasil autopsi masih belum bisa. Nanti akan diterangkan langsung oleh dokter forensik," terangnya.
Benarkah Ada Luka dan Memar di Tubuh Korban?
Raja ditanya mengenai hasil autopsi sementara jenazah korban. Berdasarkan informasi yang beredar, tim medis menemukan adanya pembengkakan pada tangan kiri.
Selain itu, bagian kepala korban juga mengalami memar. Penemuan ini diduga akibat kekerasan dari benda tumpul yang dialami oleh dokter PPDS tersebut.
Ada juga sejumlah luka di sejumlah bagian tubuh, mulai dari leher, dada, perut, punggung, dan lengan. Pemicunya diduga akibat setelah korban meninggal dunia.
Raja menegaskan bahwa, keterangan tersebut belum diterima secara resmi. Sejumlah penyebab kematian korban masih bisa dibantah sebelum polisi menerima hasil autopsi jenazah secara final.
"Itu nanti bisa setelah hasil autopsi keluar secara keseluruhan. Nanti akan kami lakukan BAP terhadap dokter yang melakukan pemeriksaan. Nah, nanti baru bisa kita jelaskan secara resmi bagaimananya. Untuk sampai sekarang, secara resmi hasil tersebut belum kami terima," bebernya.
Hingga kini, polisi melalui Satreskrim Polres Siak telah melakukan pemeriksaan lima saksi. Raja mengungkapkan bahwa, tiga dari kelimanya adalah pihak yang menemukan jenazah korban.
Tiga saksi tersebut bernama Arif Syahdu (31) dan Yudi Arianto (35) (petugas keamanan rumah sakit) serta Selamat (55). Adapun dua dari lima saksi di antaranya berstatus sebagai dokter pembimbing.
"Ada dua dokter pembimbing yang bersangkutan dalam residen anestesi tersebut. Ada dua yaitu dr Beni dan dr Yudo sekarang diperiksa intensif," tuturnya.
Pada Kamis, 16 Juli 2026, pihak kepolisian kembali mengolah tempat kejadian perkara (TKP). Sistemnya melibatkan tim medis hingga Satreskrim Polres Siak dan Biddokkes Polda Riau.
"Kita kembali melakukan olah TKP untuk kepentingan menunjang autopsi," lanjutnya.
Polisi Temukan Barang Bukti Baru
Dari hasil olah TKP tersebut, kata Raja, pihaknya menemukan dua jenis obat di dalam tas korban. Isinya masing-masing sebanyak tiga buah.
"Itu di antaranya ada satu botol obat jenis Sedafol atau Propofol, kemudian dua ampul lidokain HCl, dan ada dua buah skuid serta yang suntikannya kita kirimkan ke laboratorium forensik untuk pemeriksaan," paparnya.
Ia mengatakan, dua di antaranya yang ditemukan polisi telah digunakan. Sementara, Sedafol Propofol diduga telah dipakai oleh korban.
"Tapi ini nanti kita tunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik," tegasnya.
Sebelumnya, kasus kematian dokter PPDS UNRI menggegerkan publik. Peristiwa penemuan jenazahnya terungkap setelah dari keresahan istri korban yang juga berprofesi dokter berinisial YM (31).
YM merasa resah suaminya hilang kontak pada Senin, 13 Juli 2026 sore hari. Karena tidak bisa dihubungi, istri korban mendatangi RSUD Tengku Rafian. Upaya ini sempat mengalami kebuntuan.
YM sempat menghubungi pihak keluarga di Bagan Batu. Dari keterangan mereka, korban tidak berada di lokasi.
Istri korban pun memutuskan untuk mengecek kamera CCTV di bagian radiologi RSUD Tengku Rafian. Bersama petugas keamanan, Alex terekam sedang keluar sendirian dari area rumah sakit.
Jejak Alex terputus di area semak belukar di samping rumah sakit. Pergerakan ini membuat ketiga saksi memutuskan untuk menyisir ke area tersebut.
Seorang saksi memutuskan untuk memanjat pagar. Ia pun melihat jenazah dokter PPDS tersebut telah dalam kondisi telentang dan tidak bernyawa.
Berdasarkan hasil olah TKP pertama, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, mulai dari tas sandang berwarna hitam, sejumlah alat medis, dompet, telepon genggam, kartu identitas RSUD Tengku Rafian milik korban.
Penemuan ini membuat jenazah dokter PPDS itu dibawa ke RS Bhayangkara. Adapun hasil autopsinya masih menunggu keputusan dari tim dokter di laboratorium forensik.
(hap)