news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pekerja berjalan di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sumber :
  • ANTARA

IHSG Melemah Ikuti Bursa Global Dipicu Harga Minyak Hingga Tensi Geopolitik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat bergerak melemah mengikuti bursa saham global dipicu oleh kenaikan harga minyak global akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Jumat, 24 Juli 2026 - 09:48 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat bergerak melemah mengikuti bursa saham global dipicu oleh kenaikan harga minyak global akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

IHSG dibuka melemah 48,33 poin atau 0,77 persen ke posisi 6.266,98. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 6,66 poin atau 1,06 persen ke posisi 620,46.

“Apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support 6.262, 6.181, hingga 6.103. Sementara itu, apabila mampu kembali menguat, resistance berada di 6.377-6.394, kemudian 6.454,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, mengutip Antara pada Jumat.

Dari mancanegara, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung oleh Iran menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Situasi itu memperburuk gangguan distribusi minyak global, yang mana lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun sekitar 75 persen.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan meminta pertanggungjawaban Iran apabila serangan serupa kembali terjadi.

Seiring ketegangan geopolitik itu, harga minyak mentah mengalami kenaikan hingga menembus level 100 dolar AS per barel, sehingga mendorong ekspektasi inflasi dan memperbesar peluang kebijakan moneter yang lebih ketat oleh bank sentral.

Harga minyak mentah jenis WTI melonjak lebih dari 6 persen ke atas 92 dolar AS per barel, sementara jenis Brent naik lebih dari 6 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel, atau tertinggi sejak awal Juni 2026.

Di sisi lain, fokus pelaku pasar tetap tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral AS The Fed, setelah lonjakan harga energi global yang meningkatkan ekspektasi bahwa bank The Fed dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi meningkat.

Dari dalam negeri, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) melambat menjadi 8,7 persen year on year (yoy) pada Juni 2026 dari sebelumnya 10,8 persen (yoy) pada Mei 2026, yang mencerminkan pengetatan likuiditas akibat arus modal keluar, kontraksi Net Foreign Assets (NFA), serta penarikan sementara dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke Bank Indonesia (BI).

Meski demikian, likuiditas diperkirakan mulai membaik dalam jangka pendek hingga menengah seiring kembalinya arus modal asing dan penempatan kembali dana SAL ke bank-bank Himbara, sehingga berpotensi mendorong pertumbuhan M2 dalam beberapa bulan mendatang.

“Namun, prospek jangka panjang masih dibayangi risiko pengetatan apabila The Fed kembali bersikap lebih hawkish, ketegangan geopolitik mendorong kenaikan harga minyak, atau pemerintah kembali menarik dana SAL untuk memperkuat ruang fiskal,” ujar Liza.

Sementara itu, penerbitan perdana Panda Bond Indonesia di pasar keuangan China mencatatkan bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali, yang mana permintaan investor mencapai sekitar 17 miliar Yuan China dibandingkan nilai penerbitan sebesar 7 miliar Yuan China.

Pada perdagangan Kamis (23/07) kemarin, bursa Eropa kompak melemah, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 1,63 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,73 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,56 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 1,64 persen.

Bursa Wall Street di AS juga kompak melemah pada Kamis (23/07), diantaranya indeks S&P 500 melemah 1,21 persen ke level 7.408,30, indeks Nasdaq Composite melemah 1,87 persen ke 25.454,81, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,97 persen ke 51.711,65.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikeei melemah 3,12 persen ke 64.351,00, indeks Shanghai melemah 0,55 persen ke 3.855,45, indeks Hang Seng melemah 1,14 persen ke 24.923,72, indeks Kospi melemah 3,35 persen ke 6.859,54, dan indeks Strait Times melemah 0,57 persen ke 5.549,94.(ant/ree)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

11:10
01:48
08:01
05:28
03:56
01:39

Viral