- dok. Kemlu
Sugiono Desak ASEAN Plus Three Berubah: Bangun Ketahanan Sebelum Krisis Hantam Kawasan
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mendorong, negara-negara anggota ASEAN Plus Three (APT) mengubah pendekatan dalam menghadapi tantangan global dengan memprioritaskan pembangunan ketahanan kawasan sebelum krisis terjadi.
Menurutnya, dinamika geopolitik dan ekonomi dunia yang semakin tidak menentu menuntut kawasan tidak lagi hanya fokus pada penanganan krisis, tetapi juga memperkuat sistem pencegahan sejak dini.
Pesan tersebut disampaikan Sugiono dalam Pertemuan ke-27 Menteri Luar Negeri ASEAN Plus Three yang mempertemukan negara-negara ASEAN dengan Jepang, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan Republik Korea di Manila, Filipina.
Sugiono menilai hampir tiga dekade perjalanan APT telah membuktikan bahwa keberhasilan forum tersebut lahir dari kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata, bukan sekadar komitmen politik.
“APT lahir dari krisis. Masa depannya harus ditentukan oleh ketahanan yang kita bangun sebelum krisis terjadi,” ujar Sugiono, dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, disrupsi global yang semakin cepat kini tidak hanya memengaruhi stabilitas politik, tetapi juga berdampak langsung terhadap ketahanan energi, pasokan pangan, hingga rantai pasok regional.
Karena itu, APT harus terus berinovasi agar mampu memberikan manfaat konkret bagi seluruh negara anggotanya.
Di sektor ketahanan pangan, Indonesia mendorong pengembangan ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) agar tidak hanya berfungsi sebagai cadangan beras darurat, tetapi berkembang menjadi platform kerja sama regional yang lebih komprehensif.
Melalui penguatan tersebut, Indonesia mengusulkan agar kerja sama APT mencakup inovasi di bidang pertanian, penguatan rantai pasok pangan, serta diversifikasi cadangan pangan kawasan guna menghadapi ancaman krisis di masa depan.
Di bidang keuangan, Sugiono menekankan pentingnya mengoptimalkan berbagai instrumen yang telah dimiliki APT, termasuk Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) sebagai jaring pengaman finansial kawasan.
“Indonesia menyambut baik perkembangan CMIM untuk mengimplementasikan Rapid Financing Facility (RFF) dan pengesahan roadmap menuju mekanisme penggunaan yang lebih efektif,” tegas Sugiono.
Selain penguatan sektor pangan dan keuangan, Indonesia juga menekankan pentingnya membangun arsitektur kawasan yang kokoh dengan berlandaskan Treaty on Amity and Cooperation (TAC) serta ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP).