news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar

Prabowo Perintahkan BMKG Antisipasi El Nino, Modifikasi Cuaca Jadi Senjata Utama

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah antisipatif menghadapi ancaman musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino.
Selasa, 28 Juli 2026 - 20:32 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah antisipatif menghadapi ancaman musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino.

Dalam rapat terbatas bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (28/7), Presiden menginstruksikan penguatan langkah mitigasi untuk mencegah krisis air hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan operasi modifikasi cuaca menjadi strategi utama pemerintah.

Arahan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah memilih mengedepankan langkah pencegahan sebelum dampak El Nino meluas. 

Fokusnya bukan hanya memastikan pasokan air tetap tersedia, tetapi juga menjaga lahan gambut tetap basah agar risiko karhutla dapat ditekan sejak dini.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani mengatakan, terdapat dua agenda besar yang akan diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca, yakni menjaga ketersediaan air di waduk dan mencegah kebakaran hutan serta lahan.

“Jadi ada dua, yaitu terkait dengan ketersediaan air melalui waduk-waduk, pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan sebagainya. Juga dengan, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan dari lahan-lahan yang mudah terbakar ini melalui modifikasi cuaca. Tadi diperkuat banyak tentang modifikasi cuaca,” jelas Faisal.

BMKG menetapkan enam provinsi sebagai prioritas operasi modifikasi cuaca, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. 

Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran lahan gambut saat musim kemarau.

Operasi akan dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kelembapan tanah gambut sehingga tidak mudah terbakar. 

Selain enam provinsi tersebut, modifikasi cuaca juga akan dilakukan secara situasional di Kepulauan Riau dan Aceh sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

“Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi,” ungkapnya.

Tak hanya difokuskan pada pencegahan karhutla, operasi modifikasi cuaca juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan sumber daya air nasional. 

BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan sejumlah pihak swasta akan mengoptimalkan pengisian air di waduk-waduk strategis di berbagai daerah.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan air bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), kebutuhan irigasi pertanian, hingga penyediaan air bersih bagi masyarakat selama musim kemarau berlangsung.

“Untuk kekeringan, BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca, bekerja sama dengan BNPB, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, dan juga dengan swasta untuk pengisian waduk. Pengisian waduk-waduk yang ada di Indonesia, kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih,” ujarnya.

Faisal menegaskan, pendekatan pemerintah kini tidak lagi hanya mengandalkan respons setelah kebakaran terjadi, tetapi lebih menitikberatkan pada pencegahan sejak kondisi lahan mulai mengering. 

Menurutnya, strategi tersebut terbukti membuat pengendalian karhutla jauh lebih baik dibandingkan satu dekade lalu.

“Tidak hanya kita menunggu adanya titik api, kemudian kita padamkan dengan waterbombing, kemudian dengan pemadam yang disemprot, dan sebagainya. Tapi ketika permukaan air tanahnya sudah menurun, itu dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menjatuhkan jutaan kubik air, dan kemudian dapat menjenuhkan daerah tersebut. Sehingga sekarang kita lihat bahwa untuk kebakaran hutan dan lahan relatif lebih dapat dikendalikan dibanding sebelum 2015,” pungkasnya. (agr/dpi)
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:36
06:17
01:30
01:27
01:35
05:13

Viral