- Freepik
Kata Wamenkomdigi Soal 83 Persen Perusahaan Indonesia Siap Adopsi AI: Kita Masih di Level Usage
Jakarta, tvOnenews.com - Ambisi perusahaan di Indonesia untuk mengadopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus meningkat. Bahkan, tingkat kesiapan implementasi AI di Indonesia disebut melampaui rata-rata negara Asia Pasifik.
Namun, di balik optimisme tersebut, perusahaan masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait infrastruktur dan pengelolaan data.
Berdasarkan Laporan Data Streaming 2026 yang dirilis oleh Confluent. Survei tersebut melibatkan 4.625 pemimpin teknologi informasi (IT) dari 14 negara, termasuk 225 responden dari Indonesia.
Hasil survei menunjukkan, 83 persen perusahaan di Indonesia telah memiliki solusi berbasis AI agentik (agentic AI) yang berada pada tahap produksi maupun pilot project. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asia Pasifik yang berada di level 75 persen.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria juga menambahkan kompetisi pengembangan AI kini tidak lagi hanya berfokus pada penciptaan aplikasi, tetapi telah bergeser ke penguasaan industri semikonduktor, pusat data, serta mineral kritis yang menjadi fondasi utama teknologi digital dunia.
Dia juga menilai Indonesia memiliki modal besar untuk ikut bersaing dalam industri AI. Tingginya tingkat adopsi teknologi AI, tumbuhnya startup berbasis AI, serta inisiatif pengembangan large language model (LLM) nasional menjadi bekal penting menuju kemandirian AI.
Meski demikian, ia mengakui Indonesia masih berada pada tahap pemanfaatan teknologi sehingga perlu memperkuat kapasitas nasional melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Kita masih di level usage. Kita belum menjadi developer untuk soal AI," katanya.
Ia mengungkapkan penguasaan AI membutuhkan dukungan infrastruktur digital yang memadai, mulai dari pusat data, Graphics Processing Unit (GPU), hingga industri semikonduktor.
Selain itu, Indonesia dinilai memiliki keunggulan berupa cadangan mineral kritis seperti nikel dan pasir silika yang perlu dihilirisasi agar menghasilkan nilai tambah bagi industri teknologi nasional.
Dengan memperkuat industri semikonduktor berbasis hilirisasi mineral kritis, Indonesia diyakini dapat meningkatkan posisi tawar dalam rantai pasok teknologi global.
"Hilirisasi dari mineral kritis yang mentah itu menjadi produk antara yang kira-kira memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global di industri semikonduktor," jelasnya.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah menyiapkan Peta Jalan AI yang akan dituangkan dalam Peraturan Presiden sebagai pedoman pengembangan kecerdasan artifisial nasional.
Regulasi tersebut disusun menggunakan pendekatan berbasis risiko agar tetap membuka ruang inovasi sekaligus memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara bertanggung jawab.
Nezar menegaskan kecerdasan artifisial harus dimanfaatkan sebagai teknologi pendamping yang membantu meningkatkan produktivitas manusia, bukan menggantikan peran dan kemampuan berpikir manusia.
"Teknologi ini harus dijadikan sebagai companion (pendamping) buat kita. Bukan kita kemudian menyerahkan semuanya kepada artificial intelligence," pungkasnya.
Sementara itu Area Vice President Asia Confluent, Rully Moulany mengungkapkan bahwa sebagian besar hambatan implementasi AI masih berkaitan dengan kualitas dan pengelolaan data.
“70–80 persen responden mengatakan problem utamanya tidak jauh-jauh dari data. Delapan dari sepuluh perusahaan mengaku belum memiliki infrastruktur yang mampu memproses data secara optimal,” ujar Rully.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi tantangan umum di berbagai negara yang tengah mempercepat transformasi digital berbasis AI.