- Antara
Tekan Pengangguran Muda, Kemnaker Andalkan Program Magang Nasional bagi Lulusan Baru
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus mengoptimalkan program Magang Nasional atau MagangHub sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan kompetensi lulusan baru (fresh graduate).
Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah dalam menekan angka pengangguran di kalangan generasi muda Indonesia.
Kepala Biro Humas Kemnaker, Faried Abdurrahman Nur Yuliono, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mencetak tenaga kerja yang lebih kompetitif.
“Kemnaker berharap program Magang Nasional dapat berkontribusi pada pengurangan pengangguran muda melalui peningkatan daya saing dan kesiapan kerja lulusan baru,” ujar Faried saat memberikan keterangan di Jakarta, Senin (3/8).
Menurut Faried, tantangan terbesar yang kerap dihadapi lulusan perguruan tinggi saat ini adalah adanya celah antara bekal pendidikan formal dengan kebutuhan praktis di industri.
Seringkali, perusahaan menetapkan syarat pengalaman kerja yang belum dimiliki oleh para lulusan baru tersebut.
Melalui MagangHub, para peserta diberikan kesempatan untuk menyelami dunia kerja secara langsung.
“Program ini memberikan ruang bagi lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman kerja nyata selama enam bulan, mendapat bimbingan dari mentor, memahami budaya kerja, mengasah kompetensi teknis dan nonteknis, serta membangun portofolio dan jejaring profesional,” kata Faried.
Dengan durasi setengah tahun tersebut, peserta diharapkan tidak hanya siap dalam proses rekrutmen, tetapi juga tangguh dalam beradaptasi serta berkembang di lingkungan kerja mereka nantinya.
Berdasarkan data Kemnaker, efektivitas program ini mulai terlihat. Sebanyak 30 persen peserta dilaporkan langsung mendapatkan tawaran kerja setelah masa magang usai.
Sementara itu, 34 persen lainnya menunjukkan sinyal positif untuk direkrut, meskipun belum menerima kontrak resmi. Sisanya, sekitar 36 persen peserta, tercatat belum mendapatkan tawaran pekerjaan.
Faried menekankan bahwa angka-angka tersebut menunjukkan proses transisi yang sedang berjalan.
“Data ini penting dibaca secara utuh. Artinya, program magang tidak otomatis menjamin seluruh peserta langsung bekerja, tetapi sudah menunjukkan adanya jalur transisi yang nyata dari magang menuju kesempatan kerja,” tuturnya.
Ditinjau dari sisi industri, sektor keuangan menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak dari program ini dengan angka 23,4 persen.
Disusul oleh sektor perdagangan besar (wholesale trade) sebesar 17,9 persen, manufaktur 16,5 persen, dan sektor kesehatan sebanyak 10,3 persen.
Data serapan ini akan menjadi acuan bagi Kemnaker dalam mempererat kerja sama dengan sektor-sektor strategis lainnya guna memperluas peluang bagi peserta magang di masa depan.
Menatap tahun 2026, Kemnaker menargetkan dampak yang lebih luas dari program Magang Nasional, mulai dari peningkatan skill individu hingga penyediaan talenta siap pakai bagi perusahaan.
“Program Magang Nasional menjadi salah satu upaya konkret pemerintah dalam mengurangi pengangguran muda, terutama pengangguran lulusan perguruan tinggi, melalui pendekatan yang lebih langsung,” jelas Faried.
“Yaitu mempertemukan lulusan baru dengan dunia kerja, memberikan pengalaman riil, memperkuat kompetensi, dan membuka peluang rekrutmen setelah program selesai,” tambahnya. (ant/dpi)