- Tangkapan layar
Kabar soal Kopilot Jadi "Kurir" Ekstasi Dibahas dalam Rapat Kabinet Malaysia
Jakarta, tvOnenews.com - Kabar soal kopilot Malaysia berinisial MS menjadi “kurir” ekstasi dibahas dalam rapat kabinet pemerintahan Malaysia di Putrajaya pada Rabu (5/8/2026).
Untuk diketahui, MS diduga menyelundupkan ekstasi ke Indonesia. Tak hanya itu saja, oknum kopilot tersebut positif ekstasi, methamphetamine dan kokain di dalam tes urinenya.
Dia disebut-sebut mendapat bayaran sekitar Rp220 juta dari sang aktor utama yang saat ini masih diselidiki.
MS memanfaatkan keistimewaan jalur crew saat melakukan check-in di Bandara Soekarno-Hatta sehingga jalurnya berbeda dengan penumpang umum.
Menteri Komunikasi Malaysia sekaligus Juru Bicara Pemerintah Malaysia Fahmi Fadzil isu ini dibahas dalam rapat tersebut.
"Sehubungan penahanan kopilot MAS di Jakarta, jajaran kabinet telah mendapatkan informasi dari pihak Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Perhubungan bahwa beberapa langkah perbaikan perlu dilaksanakan segera," ujarnya.
Saat ini, sambung dia, kasus tersebut masih aktif diselidiki otoritas Indonesia.
Meski demikian, pemerintah Malaysia akan melakukan kajian apabila telah menerima laporan penuh sembari mempertimbangkan tindakan berikutnya yang perlu dilakukan.
Tak hanya itu saja, Fahmi mengatakan Malaysia turut mempertimbangkan penugasan anggota kepolisian di dalam Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) untuk mencegah hal serupa terjadi.
Pihaknya juga mendorong pihak maskapai melakukan perbaikan dalam seleksi ketat kru penerbangan.
Adapun kabar terbarunya, oknum staf KLIA diduga membantu “kurir” berinisial MS itu menyelundupkan ekstasi.
Direktur Departemen Investigasi Kriminal Narkotika Bukit Aman Datuk Hussein Omar Khan mengatakan kepolisian Malaysia telah mengidentifikasi oknum petugas bandara tersebut.
Selanjutnya, oknum tersebut akan segera dipanggil untuk memberikan keterangan.
“Individu tersebut termasuk di antara staf yang terlibat dalam pemeriksaan di KLIA. Kami akan menggali untuk dimintai keterangan dan jika terbukti kami akan melakukan penangkapan,” katanya, Selasa (4/8/2026). (ant/nsi)