- X @LambeSahamjja
Sorot Tajam Komentar Nirempati Komentar Terhadap Pasien BPJS, Guru Besar Dasaad Mulijono Sebut Sumpah Dokter Hanya Sampai di Bibir
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus pasien BPJS Kesehatan yakni Yurizal Tri Chaerawan mengundang sorotan publik usai kisahnya yang sempat mengeluh akibat lamanya mendapati ruang inap perawatan.
Dirinya mengeluh melalui unggahan media sosial (medsos) Threads sebelum akahirnya meninggal dunia terkait pelayanan rumah sakit terhadap pasien BPJS Kesehatan.
Namun, sejumlah dokter dan tenaga kesahatan (nakes) justru menyampaikan komentar sinis terkait unggahan curhatan Yurizal hingga menuai sorotan tajam publik.
Guru Besar Lifestyle Medicine, Dasaad Mulijono turut menyampaikan duka citanya terkait peristiwa yang terjadi.
- Istimewa
Dasaad mengatakan alih-alih dirangkul, keluhan almarhum justru diserbu komentar-komentar nirempati yang diduga berasal dari sejumlah oknum dokter muda dan nakes dengan olok-olok merendahkan kecerdasannya, sindiran atas statusnya sebagai pasien BPJS, hingga kelakar sinis.
"Pertanyaan yang paling menghantui bukanlah siapa pelakunya, melainkan mengapa seorang penolong bisa sampai hati merundung orang yang datang meminta tolong," kata Dasaad kepada awak media, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Dasaad menyorot sikap dari oknum dokter dan nakes yang tega menyampaikan komentar miris terkait kondisi pasien BPJS Kesehatan terkhusus Yurizal.
Dasaad menyebutnya menjadi dua penyakit batin yang diderita dokter dan nakes yang disebutnya jarang diakui oleh para profesinya.
Ia menyebut yang pertama sudah sering dibicarakan berupa pasien BPJS dipandang inferior atau dianggap 'pasien gratisan' yang tidak berhak menuntut, tidak berhak mengeluh, dan harus menerima apa pun yang diberikan kepadanya.
Penyakit kedua lebih halus dan karenanya lebih berbahaya berupa perasaan menjadi penolong yang sangat berjasa. Tanpa disadari, sebagian dokter menempatkan dirinya sebagai penyelamat yang kepadanya pasien harus berutang budi.
Ia pun mengungkap jika kebanyakan rekan seprofesinya itu hanya memaknai sumpah dokter diucapkan dengan khidmat di panggung wisuda, lalu berhenti di bibir.
Dasaad menebut sumpah dokter itu tidak pernah turun ke batin, tidak pernah menjadi kompas yang menuntun cara kami memandang pasien dan memperlakukan sejawat.
"Sumpah dokter diucapkan khidmat di panggung wisuda, lalu berhenti di bibir. Ia tidak pernah turun ke batin tidak pernah menjadi kompas dalam memandang pasien dan memperlakukan sejawat," katanya.(raa)