news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gus Miftah.
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Kota Santri

Jelang Muktamar NU, Gus Miftah Kirim Pesan Keras untuk Pemburu Jabatan

Dalam tulisan berjudul Istana Menghormati Marwah Ulama, Gus Miftah menyebut keputusan PBNU menggelar muktamar di Tambakberas merupakan langkah kembali ke akar sejarah NU.
Senin, 10 Agustus 2026 - 22:48 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Pendakwah Miftah Maulana Habiburrohman atau yang akrab disapa Gus Miftah menegaskan bahwa Istana tidak melakukan intervensi terhadap proses pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.

Dalam tulisan berjudul Istana Menghormati Marwah Ulama, Gus Miftah menyebut keputusan PBNU menggelar muktamar di Tambakberas merupakan langkah kembali ke akar sejarah NU. Menurutnya, pesantren tersebut memiliki makna historis yang kuat karena menjadi salah satu tempat lahir dan berkembangnya gagasan kebangsaan serta keagamaan para pendiri NU, khususnya KH Wahab Chasbullah.

“Tambakberas adalah tanah tempat Mbah Wahab Chasbullah memupuk gagasan kebangsaan dan keagamaan yang lentur sekaligus kokoh. Di tempat yang barokah ini, idealnya tidak boleh ada kotoran pragmatisme politik yang merusak udara pesantren,” tulis Gus Miftah, dikutip Senin (10/8/2026).

Ia menilai Presiden memahami batas antara kekuasaan politik dan kedaulatan moral organisasi keagamaan. Karena itu, menurutnya, tidak ada campur tangan Istana dalam menentukan siapa yang akan memimpin PBNU.

“Maka, Istana—dalam hal ini Presiden—sepaham penulis, sama sekali tidak ikut campur, tidak mengintervensi, dan tidak terlibat dalam pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang,” ujarnya.

Gus Miftah menyebut sikap tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap marwah ulama dan kedaulatan para kiai dalam menentukan arah organisasi. Menurutnya, menghormati NU bukan berarti ikut mengatur, melainkan memberi ruang penuh bagi jam’iyah untuk mengambil keputusan secara mandiri.

“Di sinilah letak kearifan Presiden. Beliau tahu persis batas demarkasi antara kekuasaan politik dan kedaulatan moral jam’iyah. Sebab, mengintervensi NU sama artinya dengan merobohkan tiang penyangga moral civil society yang selama ini berdiri tegak meneduhkan bangsa,” tulisnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang mengklaim membawa restu Istana untuk kepentingan kontestasi internal NU. Menurutnya, praktik semacam itu bukan hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi mencederai kehormatan Presiden dan marwah para kiai.

“Oleh karena itu, sangat tidak elok jika masih ada pihak-pihak yang bergerak di bawah tanah, berbisik di lorong-lorong Muktamar, lalu menjual nama Istana. ‘Sudah dapat restu,’ katanya. Atau, ‘Ini titipan Pusat,’ bisiknya,” kata Gus Miftah.

Ia bahkan secara tegas meminta agar siapa pun yang mengatasnamakan Presiden untuk meraih dukungan segera menghentikan praktik tersebut.

“Sekali lagi, siapapun itu, sudah sewajarnya berhenti menjual nama Presiden demi syahwat kekuasaan personal,” tegasnya.

Dalam pandangannya, NU merupakan salah satu tiang utama masyarakat sipil di Indonesia. Karena itu, muktamar tidak boleh direduksi menjadi arena perebutan pengaruh politik praktis.

“NU adalah tiang utama civil society di Indonesia. Jika tiang ini ikut digoyang oleh syahwat politik kekuasaan, runtuhlah atap moral bangsa ini,” ujarnya.

Gus Miftah juga menyinggung pentingnya kapasitas dan rekam jejak kepemimpinan bagi figur yang ingin memimpin organisasi sebesar NU. Ia mengutip pesan dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Man thalaba al-riyasata fadhahahu Allahu. (Siapa yang ambisius mengejar jabatan kepemimpinan, maka Allah akan menghinakannya),” tulisnya.

Menurutnya, kepemimpinan di NU bukan sesuatu yang harus direbut, melainkan amanah yang lahir dari semangat khidmah atau pengabdian.

“Muktamar di Tambakberas harus menjadi panggung yang gembira, bersih dari transaksional, dan bermartabat. Biarlah para kiai sepuh di jajaran Syuriyah dan para muktamirin yang membawa mandat akar rumput yang menimbang dan memutuskan dengan nurani jernih,” katanya.

Di akhir tulisannya, Gus Miftah menegaskan bahwa dirinya tidak berada di pihak kandidat mana pun. Ia menyatakan hanya ingin NU menjadi lebih baik di tengah tantangan besar yang dihadapi umat dan bangsa.

“Saya sebagai orang yang mencintai NU dan bukan bagian dari timses manapun, hanya ingin NU menjadi lebih baik ke depannya. Semata karena tantangan besar kini berada di depan mata nahdliyin,” tutupnya. (cmi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:50
02:12
01:13
01:26
01:32
03:29

Viral