- Istimewa
Harga Emas Melejit ke US$4.120, Pengamat Ramal Tembus hingga US$6.000
Jakarta, tvOnenews.com – Harga emas dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Penguatan tersebut diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat, bahkan harga emas berpeluang menembus level US$5.200 per troy ounce pada kuartal III 2026.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas dunia pagi ini telah berada di kisaran US$4.120 per troy ounce. Menurutnya, tren kenaikan masih terbuka lebar seiring pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.
“Pagi ini harga emas dunia terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan ya, saat ini di US$4.120 (per troy ounce). Artinya apa, bahwa harga emas dunia itu masih akan mengalami kenaikan, ada kemungkinan besar di kuartal ketiga ini akan mencapai level US$5.200 (per troy ounce),” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (11/8/2026).
Ibrahim bahkan memperkirakan level US$5.200 berpotensi didekati lebih cepat dari perkiraan. Menurutnya, emas kemungkinan sudah mendekati level tersebut pada pekan kedua kuartal III.
“US$5.200 diprediksi kemungkinan besar tidak mencapai di kuartal ketiga di minggu ketiga ya, kemungkinan besar di minggu kedua ya, ini sudah akan mendekati level US$5.200-an,” ujarnya.
Jika level US$5.200 berhasil dicapai dan mampu bertahan hingga penghujung tahun, Ibrahim melihat peluang harga emas bergerak lebih tinggi masih terbuka.
“Artinya apa, kalau seandainya US$5.200 sampai akhir tahun ya, US$5.500 sampai US$6.000 ya kemungkinan besar akan tercapai,” katanya.
Menurut Ibrahim, salah satu pemicu utama reli emas saat ini berasal dari pergerakan indeks dolar AS yang terus melemah. Bahkan, pelemahan tersebut terlihat sejak pembukaan perdagangan di kawasan Asia.
“Apa yang membuat harga emas dunia terus mengalami kenaikan? Ya kita lihat bahwa saat ini indeks dolar terus mengalami pelemahan bahkan terjadi gap down ya tadi pagi pada saat pembukaan pasar di jam enam ya waktu Asia,” tutur Ibrahim.
Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor karena harga komoditas tersebut menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar. Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Ibrahim menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai keinginan Amerika mencapai perdamaian dengan Iran turut memengaruhi pergerakan pasar global.
“Karena apa? Karena ada statement dari Donald Trump bahwa Amerika menginginkan perdamaian ya dengan Iran walaupun tanpa ada perjanjian nuklir,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan tekanan terhadap kemampuan AS untuk mempertahankan operasi militernya. Ibrahim menyinggung belum diprosesnya anggaran perang di Kongres AS serta penyusutan persediaan misil Amerika.
“Artinya apa, bahwa Amerika sudah kewalahan ya, apalagi menunggu dengan dana anggaran perang yang sampai saat ini pun juga belum diproses di Kongres ya, sehingga apa, sehingga wajarlah kalau seandainya misil-misil yang dimiliki oleh Amerika mengalami penyusutan,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, Israel disebut masih berpotensi melakukan serangan terhadap Iran secara mandiri. Namun, Ibrahim menilai kemungkinan tersebut belum serta-merta membuat ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali melonjak.
“Walaupun Israel ya kemungkinan besar akan melakukan serangan terhadap Iran sendirian, tetapi ini pun juga tidak membuat serta-merta apa ketegangan geopolitik di Timur Tengah ini meningkat,” pungkasnya. (agr/ree)