- BKI.
Indonesia Bersiap Tinggalkan Bahan Bakar Tinggi Emisi, Biodiesel hingga E-Methanol Jadi Opsi
Jakarta, tvOnenews.com - Upaya menekan emisi dari sektor pelayaran mulai diarahkan pada pilihan energi dan teknologi yang lebih rendah karbon. Di Indonesia, transisi tersebut dinilai perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan kapal, bahan bakar, infrastruktur, serta kemampuan industri.
Salah satu pembahasan yang mengemuka adalah pemanfaatan biodiesel dan e-methanol sebagai bagian dari pilihan bahan bakar dalam proses dekarbonisasi pelayaran domestik. Keduanya memiliki tingkat kesiapan yang berbeda sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan rantai pasok energi di Indonesia.
Direktur Operasi Bisnis Klasifikasi PT BKI (Persero), Arief Budi Permana, mengatakan proses menuju pelayaran rendah emisi tidak dapat dilakukan dengan satu pilihan teknologi. Menurutnya, setiap sumber energi memiliki tingkat kesiapan yang berbeda dan harus ditempatkan sesuai tahapan transisi.
“Kami memandang dekarbonisasi perlu dilihat sebagai spektrum transisi. Biodiesel menjadi opsi yang paling siap dalam jangka pendek karena kompatibilitas mesin dan infrastruktur yang relatif tersedia, sementara e-methanol menjadi opsi menjanjikan untuk jangka menengah–panjang dengan potensi penurunan emisi well-to-wake yang jauh lebih besar, meski kesiapannya di Indonesia masih pada tahap awal," ujar Arief dalam keterangannya, dikutip Sabtu (22/8/2026).
"Di sinilah peran klasifikasi menjadi penting—melalui penyusunan rules dan class notation kapal berbahan bakar alternatif, kajian teknis dan risk assessment, serta verifikasi emisi dalam kerangka CII, EEXI, dan SEEMP—agar transisi berjalan aman dan terukur," sambungnya.
Menurut Arief, kesiapan industri juga perlu berjalan beriringan dengan kebijakan dan perkembangan regulasi internasional. Salah satunya melalui perkembangan IMO Net-Zero Framework yang mendorong sektor pelayaran semakin mampu mengukur dan mengelola emisinya.
“Kami berharap forum hari ini dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebijakan dengan kebutuhan industri, kesiapan teknologi dengan kesiapan energi, serta target dekarbonisasi bertahap yang sesuai dengan kemampuan implementasi di lapangan.” tambah Arief.
Tak Cukup Hitung Emisi dari Kapal
Pembahasan mengenai emisi pelayaran tidak hanya berkaitan dengan jumlah emisi yang keluar dari mesin kapal saat beroperasi. Jejak karbon bahan bakar juga perlu dilihat sejak awal melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA).