- tvOne - Rohmadi
Menuju NU 2050, Gus Yahya: Transformasi NU Harus Perkuat Kelembagaan Tanpa Lepas dari Tradisi
Jakarta, tvOnenews.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2022–2027 terus memperkuat transformasi digital dengan tetap menjaga tradisi keulamaan sebagai fondasi jam’iyah.
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya menyadari betul memasuki abad kedua perjalanannya, Nahdlatul Ulama (NU) akan menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Mulai dari disrupsi teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI), perubahan iklim yang berdampak pada basis masyarakat petani dan nelayan, hingga pergeseran demografi generasi muda.
Oleh karena itu, Gus Yahya mengatakan bahwa pergerakan NU di abad kedua membutuhkan strategi transformasi agar kebesaran jam’iyah dapat diperkuat dengan kapasitas kelembagaan yang semakin besar.
Saat ini struktur NU mencakup 38 PWNU, 523 PCNU, 33 PCINU, sekitar 7.000 MWC, dan lebih dari 61.000 Pengurus Ranting di tingkat desa, dengan basis warga mencapai 57,2 persen dari populasi Muslim Indonesia.
“Kebesaran ukuran organisasi harus diperkuat dengan adaptasi administrasi modern. Digitalisasi dan standarisasi tata kelola adalah jalur mutlak agar NU tetap berdaya guna dan relevan melayani umat di tingkat akar rumput,” ujar Gus Yahya di Jakarta, pada Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, dalam lima tahun terakhir, PBNU mendorong perubahan tata kelola agar kerja organisasi semakin ditopang oleh sistem yang terstandar dan dapat diterapkan secara konsisten di berbagai tingkatan.
"Transformasi tersebut salah satunya dilakukan melalui platform digital Digdaya NU yang mendukung penguatan fungsi administrasi organisasi," katanya.
PBNU juga mengintegrasikan layanan AI WhatsApp Chatbot untuk membantu kebutuhan administratif di tingkat cabang hingga ranting, terutama di wilayah dengan keterbatasan personel teknologi informasi.
Penguatan sistem berjalan bersamaan dengan pembangunan sumber daya manusia organisasi. Program kaderisasi berjenjang seperti PD-PKPNU dan PMKNU telah meluluskan lebih dari 133.000 kader yang diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung penguatan organisasi.
Di tengah proses modernisasi tersebut, akar tradisi dan spiritualitas tetap dipertahankan melalui program Nasrus Sanad di Pesantren Tebuireng untuk menjaga keterhubungan sanad keilmuan dan tradisi keulamaan.
"Dengan demikian, transformasi NU tidak diarahkan untuk menggantikan tradisi dengan modernisasi, melainkan memperkuat kapasitas kelembagaan tanpa melepaskan identitas keislaman dan keulamaannya," jelasnya.