- dok. pribadi
Gagas "Archipelagic Thinking", Tiyo-Dhana akan Serap Aspirasi Anak Muda untuk Masa Depan Indonesia
Jakarta, tvOnenews.com - Siapa yang tak mengenal eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto. Namanya mencuat di media sosial seusai dirinya aktif mengkritik kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Mahasiswa Ilmu Filsafat UGM itu, sangat vokal menanggapi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak pro rakyat.
Tiyo Ardianto menjadi sosok "the rising star" dalam gerakan mahasiswa Indonesia saat ini. Ia kerap memunculkan gagasan-gagasan strategis yang berpotensi mengubah paradigma berpikir generasi muda Indonesia.
- YouTube/forumkeadilanTV
Salah satunya, "Archipelagic Thinking" sebuah kerangka berpikir yang mensyaratkan pemahaman menyeluruh terhadap karakter negara kepulauan yang majemuk.
Sebuah konsep yang dirumuskan bersama karibnya Dhana Baswara, seorang pemuda yang memiliki latar belakang pendidikan kebijakan publik Universitas of Sussex, Inggris.
Gagasan berpikir kepulauan ini dicetuskan dalam diskusi tertutup di Solo, Jawa Tengah pada Sabtu (22/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut Tiyo banyak mengeksplorasi pengalaman Dhana selama menempuh pendidikan di Inggris. Salah satu yang menarik bagi Tiyo, masyarakat Inggris yang terbuka dan liberal, tetapi masih teguh menjaga tradisi.
Namun ternyata menurut Dhana, tidak semua orang di Inggris menyukai anggota keluarga kerajaan, akan tetapi, faktanya secara umum masyarakat Inggris sangat menghormati sistem monarki-parlementer yang demokratis sebagai bagian dari warisan budaya nasional.
Tiyo melihat bahwa Indonesia dan Inggris sama-sama negara kepulauan — karena itu, seharusnya Indonesia bisa belajar cara "berpikir kepulauan" seperti yang diterapkan di Inggris.
Dari sinilah konsep "Archipelagic Thinking" atau berpikir kepulauan dirumuskan. Sebuah kerangka berpikir yang mensyaratkan pemahaman menyeluruh terhadap karakter negara kepulauan yang majemuk.
Konsep ini menuntut pemerintah pusat sadar akan kondisi dan potensi masing-masing daerah. Sehingga nantinya lahir kebijakan yang sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah.
Selama ini, menurut mereka, kebijakan pemerintah Indonesia cenderung bersifat "one size fits all" satu standar diterapkan ke seluruh negeri, mengabaikan keunikan dan kekayaan tiap daerah.
Keduanya, sepakat merancang sebuah roadshow nasional ke berbagai daerah di Indonesia untuk kampanye "Archipelagic Thinking". Menemui generasi milenial dan Generasi Z untuk menyerap aspirasi langsung dari anak muda mengenai masa depan Indonesia.
"Kita akan lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kita ingin mendalami pemikiran anak muda dari seluruh Indonesia mengenai masa depan daerah mereka," ujar Tiyo, pada Minggu (23/8/2026).
Tiyo menilai krisis moral dan etika yang melanda kalangan elite belakangan ini yang memicu korupsi masif — telah mencapai tingkat yang memerlukan perubahan mendasar.
"Krisis ini sudah sangat akut, untuk menyelesaikannya harus dipotong satu generasi. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan terjadi dari generasi sekarang, kita harus menyiapkan generasi masa depan," tegas Tiyo.
Oleh karena itu, ia berjuang menyiapkan fondasi bagi generasi baru yang akan memimpin di tahun 2045, dimulai dari perubahan pola pikir anak muda.
Keberagaman sosial-budaya yang kaya adalah modal sosial yang luar biasa, dan kekayaan alam yang melimpah adalah modal ekonomi yang dahsyat.
"Di tangan generasi muda yang punya kesadaran moral dan budaya yang tinggi, potensi Indonesia Emas bisa terwujud," pungkas Tiyo.
Dhana, yang kini merintis portal media dan siniar RayaTimes, bersedia menjadikan platform media sosial miliknya sebagai sarana pelaksanaan Roadshow Archipelagic Thinking.
"Kami ingin mendalami pemikiran anak muda dari seluruh Indonesia mengenai masa depan daerah mereka," timpal Dhana. (muu)