- ANTARA
Desa Adat Sade Lombok Terbakar, Ratusan Rumah Berbahan Bambu dan Ilalang Ludes
tvOnenews.com - Kebakaran hebat melanda permukiman Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Insiden ini terjadi pada Sabtu (23/8/2026) malam sekitar pukul 22.00 WITA telah meluluhlantakkan ratusan rumah yang berbahan kayu, bambu, dan ilalang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, api pertama kali muncul dari salah satu rumah di tengah permukiman adat yang kemudian merembet ke sejumlah rumah lainnya.
Seketika warga desa adat Sade berhamburan menyelamatkan diri dan sejumlah barang berharga.
Sejumlah mobil pemadam kebakaran dan penyelamatan (Damkartan) gabungan turut dikerahkan untuk memadamkan api.
Puluhan unit mobil kebakaran dikerahkan ke lokasi untuk menanggulangi kebakaran, termasuk bantuan dari Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, Pemerintah Provinsi NTB, serta seluruh unit Damkartan Kabupaten Lombok Tengah.
- ANTARA
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, NTB mengatakan terdapat 320 jiwa dari 120 kepala keluarga yang terdampak dalam insiden ini.
Pihaknya kini lebih memfokuskan pada pemulihan korban atau warga yang terdampak dari kebakaran yang mengakibatkan ratusan rumah adat ini.
“Korban yang terdampak mencapai 320 jiwa atau 120 kepala keluarga,” ungkap Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri setelah melaksanakan rapat koordinasi penanganan dampak kebakaran rumah adat Sade di Desa Rambitan, Lombok Tengah, pada Minggu (23/8/2026).
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas seperti masjid, museum, lapak UMKM (usaha mikro kecil menengah) serta fasilitas umum lainnya turut ludes terbakar.
“Kebakaran ini merupakan musibah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Namun, kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen untuk segera melakukan penanganan,” ujar Lalu Pathul Bahri.
Kebakaran di desa adat wisata Sade begitu cepat meluas lantaran sebagian besar bangunan terbuat dari ilalang dan berdinding anyaman bambu (badek), serta lantai yang terbuat dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan jerami.
“Terutama karena atapnya ilalang. Ini mungkin menjadi referensi ketika terjadi sesuatu, terbakar habis karena atapnya ilalang. Ke depan tentu harus dipikir lebih jauh,” terangnya.
(kmr)