- dok.sosial media X
Muktamar ke-35 NU Akan Digelar di Jombang, Nahdliyin Berharap Sejarah Kelam 2015 Tak Terulang
Jombang, tvOnenews.com - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan digelar di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026 mendatang. Para nahdliyin berharap sejarah 2015 tidak kembali terulang.
Muktamar ke-33 NU yang juga berlangsung di Jombang pada 1-5 Agustus 2015 lalu menjadi salah satu catatan sejarah kelam perjalanan Muktamar NU.
Masih segar di ingatan Supriyanto (48) seorang warga sekaligus kader NU, bagaimana ketegangan dalam forum tersebut terjadi.
Perdebatan mengenai tata tertib, khususnya penerapan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam, membuat persidangan berjalan alot.
Situasi bahkan sempat berujung pada skorsing sidang setelah terjadi serangkaian interupsi. Ketegangan meningkat hingga terjadi aksi saling dorong dan pengusiran peserta dari arena persidangan.
Pengalaman itu membuat prria yang akrab disapa Yanto ini berharap Muktamar ke-35 tidak mengulang persoalan serupa.
“Saya khawatir deadlock dan molor seperti 2015,” kata Yanto di Jombang, pada Minggu (22/8/2026).
Yanto tinggal di Tambakrejo, kawasan yang berada tidak jauh dari lokasi muktamar. Menurutnya, pelaksanaan forum terbesar NU itu akan ikut memengaruhi suasana masyarakat sekitar, bukan hanya peserta yang berada di ruang persidangan.
Warga berharap agenda organisasi tersebut berlangsung aman, tertib, dan sesuai dengan jadwal.
“Muktamar seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan pikiran dan mencari jalan keluar, bukan mempertontonkan pertentangan yang berlarut-larut,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Anis (39), yang pernah terlibat sebagai bagian dari panitia teknis Muktamar ke-33 NU.
Pengalaman menangani kegiatan tersebut membuatnya memahami bagaimana dinamika persidangan dapat berdampak terhadap keseluruhan rangkaian acara.
Ketika sidang berlangsung alot, berbagai agenda teknis harus menyesuaikan perkembangan di arena persidangan. Peserta tetap harus dilayani, sementara panitia menghadapi situasi yang berubah seiring belum tercapainya kesepakatan.
Kini, ketika Jombang kembali menjadi tuan rumah, Anis berharap pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi.
Ia menilai kelancaran suksesi merupakan bagian penting dari keberhasilan muktamar. Proses pergantian kepemimpinan, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan sosok yang terpilih, tetapi harus dilakukan melalui mekanisme yang dapat diterima warga NU.
“Pemimpin yang lahir dari muktamar harus memiliki legitimasi yang dapat diterima secara lahir maupun batin oleh warga NU,” kata Anis.
Legitimasi tersebut, lanjut dia, penting agar hasil muktamar tidak menimbulkan kesan bahwa keputusan organisasi ditentukan oleh kepentingan tertentu.
Bagi warga Jombang, persoalan tersebut menjadi penting karena mereka akan menjadi bagian dari suasana yang mengiringi pelaksanaan muktamar.
Jangan Sampai Persaingan Nodai Persatuan NU
Warga Jombang berharap dinamika internal organisasi tidak berkembang menjadi konflik terbuka.
Yanto menilai perbedaan pilihan dalam proses pemilihan pemimpin merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan harus tetap ditempatkan dalam koridor musyawarah dan kepentingan organisasi.
Ia berharap para kiai, pengurus, dan peserta muktamar tidak menjadikan persaingan kepemimpinan sebagai alasan untuk mengorbankan persatuan NU. Jombang, menurut Yanto, telah bersiap menerima para peserta dari berbagai daerah.
Masyarakat ingin muktamar berlangsung dengan suasana yang kondusif sehingga manfaat kehadiran para tamu dapat dirasakan secara langsung oleh warga sekitar.
Di tengah persiapan tersebut, kenangan tentang Muktamar ke-33 menjadi pengingat bahwa forum sebesar muktamar dapat menghadapi kebuntuan ketika perbedaan tidak segera menemukan titik temu.
Muktamar ke-35 kini membawa harapan agar pengalaman tersebut tidak kembali terulang.
Bagi warga, keberhasilan forum bukan hanya diukur dari terpilihnya pemimpin baru, tetapi juga dari proses yang tertib, transparan, dan dapat diterima oleh nahdliyin.
Masyarakat Jombang mungkin tidak memiliki suara dalam ruang persidangan. Namun, mereka tetap menaruh harapan terhadap keputusan yang akan lahir dari forum tersebut.
Muktamar diharapkan berjalan hingga tuntas tanpa deadlock, tidak terseret praktik yang mencederai proses organisasi, serta menghasilkan kepemimpinan yang memiliki legitimasi kuat.
Bagi Yanto dan Anis, harapan itu sederhana: Jombang kembali menjadi tuan rumah muktamar dengan catatan yang lebih baik.
Bukan perdebatan panjang yang diwariskan, melainkan keputusan yang memperkuat organisasi dan membawa NU memasuki fase kepemimpinan berikutnya dengan persatuan yang tetap terjaga.
Hidupkan Ekonomi Masyarakat
Persiapan Muktamar ke-35 NU sudah tampak terlihat di Jombang. Kedatangan ribuan nahdliyin dari berbagai daerah dinilai akan berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat.
Warung-warung di sekitar lokasi mulai bersiap menyambut peningkatan aktivitas puluhan ribu warga NU yang akan menghadiri Mukatamar ke-35.
Sejumlah warga juga melihat muktamar sebagai peluang ekonomi melalui penyewaan rumah, perdagangan, hingga jasa selama rangkaian kegiatan berlangsung. (muu)