- Dokumentasi Setpres
Prabowo Ungkap Hutan NTT Banyak Berkurang, Target 10 Tahun Daerah Gundul Kembali Hijau
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden Prabowo Subianto menyoroti berkurangnya tutupan pohon di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu segera dibenahi adalah kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar hutan.
Prabowo mendorong pemerintah mempercepat penghijauan dengan membangun pusat persemaian atau nursery di tingkat provinsi hingga kabupaten.
Seluruh lahan terbuka diarahkan untuk ditanami pohon produktif serta tanaman yang dapat membantu menjaga ketersediaan air.
“Ini saya cukup mengertilah daerah-daerah sini ya. Masalah di sini adalah masalah bahwa pohon-pohon banyak berkurang, ya. Kalau tidak salah dari dulu ya, rakyat di sini juga banyak bakar hutan ya? Benar kan? Benar saya hafal, saya tahu,” kata Prabowo, saat memimpin rapat terkait penanganan bencana gempa di NTT, sebagaimana ditayangkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (26/8).
Prabowo mengatakan persoalan tersebut tidak bisa hanya diselesaikan melalui penindakan, tetapi membutuhkan edukasi kepada masyarakat mengenai cara membuka lahan tanpa membakar hutan.
“Saya waktu muda juga lama di daerah-daerah sini, ya. Masalahnya itu. Jadi rakyat kita harus dikasih pendidikan, buka lahan tidak boleh dengan bakar-bakar. Tapi oke, itu memang masalah,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Prabowo juga menyinggung sejarah kawasan NTT yang menurutnya dahulu memiliki tutupan hutan jauh lebih lebat. Ia mengaitkan berkurangnya sumber daya kayu dengan sejarah eksploitasi pada masa kolonial.
“Di sini dulu daerahnya ini lebat kalau kita pikir 100 tahun yang lalu, 200 tahun yang lalu, ya. Portugis, Spanyol datang ke sini mencari kayu untuk angkatan laut mereka,” katanya.
Prabowo mengatakan kebutuhan kayu untuk membangun armada laut menjadi salah satu bagian dari sejarah kekuatan militer negara-negara besar pada masa lalu.
“Makanya mereka menjajah Timor Timur, mereka masuk ke Timor Barat, nyari kayu kita untuk angkatan laut mereka. Jadi superpower itu dulu superpower kekuatan militernya di angkatan laut, angkatan lautnya dari kayu. Ya ini kita ingatkan. Oke itu sudah sejarah,” ujarnya.
Namun, Prabowo menekankan pemerintah saat ini harus berfokus pada pemulihan kondisi lingkungan dan peningkatan tutupan vegetasi.
Prabowo mengungkapkan pemerintah sebelumnya telah membentuk tim yang melibatkan Universitas Pertahanan (Unhan), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempelajari metode percepatan penghijauan dari sejumlah negara.
“Saya telah membentuk waktu itu Unhan, Dikti sama BRIN untuk keliling ke beberapa negara belajar bagaimana mempercepat penghijauan. Mempercepat penghijauan,” kata Prabowo.
Hasilnya, pemerintah akan mendorong pembangunan nursery dan pusat perbenihan di tingkat provinsi dan kabupaten. Fasilitas tersebut akan digunakan untuk menyemaikan berbagai jenis pohon yang dinilai produktif.
“Jadi nanti dibantu oleh pusat, kita bangun nursery, perbenihan ya, di Provinsi dan di tiap Kabupaten perbenihan untuk disemaikan benih-benih pohon yang produktif,” ujarnya.
Prabowo menegaskan penghijauan tidak hanya ditujukan untuk mengembalikan tutupan pohon, tetapi juga menjaga fungsi ekologis kawasan, terutama dalam mempertahankan ketersediaan air.
“Ya, pohon dan tanaman produktif. Semua lahan yang terbuka kita tanam pohon yang produktif dan pohon-pohon untuk mengamankan air,” ungkapnya.
Selain penanaman pohon, Prabowo mendorong penerapan konsep permaculture di kawasan pegunungan.
Menurutnya, metode tersebut membutuhkan waktu dan pengelolaan yang konsisten untuk menghasilkan dampak terhadap tata air.
“Kemudian gunung-gunung kita lakukan apa yang disebut permaculture. Permaculture ini memang tidak bisa langsung satu-dua tahun hasilnya, tapi kalau dilakukan dengan teliti dalam empat, lima, enam tahun itu bisa menampung dan menambah air di dalam bumi,” tegasnya.
Menurut Prabowo, pemulihan lingkungan membutuhkan kesabaran karena hasilnya tidak dapat diperoleh secara instan.
Namun, apabila dilakukan secara konsisten, kawasan yang saat ini gundul diyakini dapat kembali hijau dalam satu dekade.
“Ini sangat penting ya, jadi ini saya yakin dengan permaculture daerah-daerah gundul ini dalam 10 tahun bisa hijau kembali, ya,” tutup dia. (agr/dpi)