- Istimewa
FKH UNAIR Dapat Hibah Alat Kesehatan Hewan, Dukung Penguatan Pendidikan Calon Dokter Hewan
Jakarta, tvOnenews.com — Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) mendapatkan hibah peralatan medis veteriner berupa berupa mesin anestesi dan veterinary monitor.
Alat tersebut diserahkan kepada Dekan FKH UNAIR, Prof. Dr. Lilik Maslachah di Surabaya, Rabu (26/8/2026). Peralatan tersebut diharapkan dapat menunjang proses pembelajaran, praktik mahasiswa, sekaligus kegiatan akademik dan penelitian di lingkungan FKH UNAIR.
Program hibah peralatan medis veteriner ASK Medika telah berjalan secara bertahap sejak 2020. Program tersebut diawali di Universitas Syiah Kuala (USK), kemudian berlanjut ke Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Udayana (UNUD), dan kini FKH Universitas Airlangga (UNAIR).
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V yang juga ASK Medika, drh. Mirjawal mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk ikut memperkuat pendidikan dokter hewan di Indonesia.
“Program ini kami mulai sejak 2020 dan terus kami jalankan secara bertahap. Dimulai dari USK, kemudian IPB, UGM, Universitas Udayana, dan sekarang UNAIR. Target kami ke depan program ini dapat menjangkau seluruh fakultas kedokteran hewan di Indonesia,” kata Mirjawal saat ditemui di FKH UNAIR.
Menurut Mirjawal, perkembangan teknologi dalam pelayanan kesehatan hewan perlu diikuti dengan kesiapan mahasiswa untuk mengenal dan menggunakan berbagai perangkat medis yang nantinya akan mereka temui dalam praktik profesional.
“Mahasiswa perlu mengenal teknologi dan peralatan yang nantinya akan mereka gunakan ketika menjalankan profesinya. Harapannya, fasilitas ini bisa memperkuat proses pendidikan sekaligus memberikan pengalaman praktik yang lebih baik,” ujarnya.
Mesin anestesi yang dihibahkan digunakan untuk menunjang pemberian dan pengelolaan anestesi selama tindakan medis. Sementara itu, veterinary monitor berfungsi membantu memantau berbagai parameter vital pasien selama prosedur berlangsung.
Keberadaan kedua perangkat tersebut diharapkan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari prosedur medis secara akademik, tetapi juga memahami penerapan teknologi dalam praktik kedokteran hewan.
Mirjawal menilai kualitas dokter hewan pada masa mendatang turut ditentukan oleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama masa pendidikan. Karena itu, akses terhadap teknologi medis yang relevan menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan calon dokter hewan menghadapi dunia profesi.
“Teknologi kedokteran hewan terus berkembang. Mahasiswa harus mendapatkan kesempatan untuk mengenalnya sejak masa pendidikan sehingga ketika masuk ke dunia profesi mereka sudah memiliki bekal,” katanya.
Program hibah tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi dalam mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui dukungan terhadap pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Ini merupakan bentuk kontribusi dan tanggung jawab untuk mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kami berharap manfaatnya tidak berhenti pada proses pembelajaran, tetapi juga dapat mendukung penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Mirjawal.
“Targetnya program ini terus berjalan. Kami ingin semakin banyak fakultas kedokteran hewan dan mahasiswa yang bisa mendapatkan manfaatnya,” sambungnya.
Menurut Mirjawal, penguatan pendidikan calon dokter hewan merupakan investasi bagi masa depan profesi dan pelayanan kesehatan hewan di Indonesia. Pengalaman dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa selama masa pendidikan akan menjadi bekal penting ketika mereka memasuki dunia kerja dan menghadapi perkembangan kebutuhan pelayanan kesehatan hewan.