news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Aktivitas Japfa for Kids di SD Negeri Sukamanah 01, Megamendung, Kabupaten Bogor.
Sumber :
  • Ammar Ramzi

Belum Terlambat untuk Tinggi dan Bergizi: Kisah Akhtar Melawan Stunting di Lereng Puncak Bogor

Program Japfa for Kids hadir membantu mengatasi stunting & masalah gizi di SDN 01 Megamendung lewat sebutir telur setiap hari & 4 pilar gizi seimbang. Akhtar ..
Minggu, 30 Agustus 2026 - 02:48 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com — Udara sejuk khas kawasan Puncak, Bogor, menyelimuti pelataran SD Negeri Sukamanah 01, Megamendung. Kehangatan mentari pagi perlahan memecah hawa dingin, menyinari rona riang ratusan anak sekolah dasar yang tengah memadati lapangan. 

Gelak tawa dan gerakan energik anak-anak itu menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

Di balik pagar tembok sekolah yang hanya berukuran setengah badan orang dewasa, puluhan ibu mengobrol sambil menyaksikan tingkah buah hati mereka. 

Tatapan mata mereka menyimpan harap tajam, diam-diam doa dilangitkan agar anak-anak ini kelak memiliki masa depan yang jauh lebih cerah.

Rupanya pagi itu ada aktivitas Jumat Sehat, kegiatan dibuka dengan Senam 4 Pilar Gizi Seimbang.

Irama musik yang ritmis tak sekadar mengajak tubuh bergerak, melainkan menanamkan pemahaman kebiasaan pola hidup sehat ke dalam ingatan para siswa.

“Yo ayo kita makan yang beragam, membiasakan berperilaku hidup sehat, rajin berolahraga, jaga berat badan, itulah 4 pilar gizi seimbang, bangsaku sehat berprestasi…”

Lirik lagu yang diulang-ulang itu menggema merdu dari mulut-mulut mungil anak sekolah.

Selesai bersenam, para siswa berbaris rapi. Para guru dan pendamping memeriksa jemari mereka satu per satu. Kuku-kuku mungil itu terpantau bersih tanpa selipan kotoran hitam.

Kegiatan periksa kuku dan cuci tangan pakai sabun di SD Negeri Sukamanah 01, Megamendung, Kabupaten Bogor
Sumber :
  • Ammar Ramzi

Usai kuku dipastikan rapi, barisan melangkah menuju wastafel. Seorang siswi melangkah maju, mempraktikkan cara mencuci tangan dengan sabun sembari menyanyikan lagu cuci tangan yang ia hafal di luar kepala: "Gosok-gosok telapak tangan, punggung tangan kiri dan kanan, sela-sela jari jemari..."

Teman-temannya pun mengikuti dengan penuh antusias.

Aktivitas pemeriksaan kuku dan kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) ini sekilas tampak sepele, namun dampaknya tak bisa dianggap remeh. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi di Indonesia lebih dari 31.000 anak setiap tahunnya gagal merayakan ulang tahun kelima mereka akibat penyakit-penyakit yang sejatinya dapat ditangkal hanya dengan kebiasaan cuci tangan pakai sabun.

Data WHO menyebut perilaku CTPS secara konsisten mampu menekan risiko diare hingga 45 persen. Praktik ini juga terbukti efektif mencegah infeksi cacing tanah serta memangkas potensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga separuhnya.

Seusai bilasan air mengalir bersih dari jemari mereka, rangkaian acara pagi itu ditutup dengan sesi makan bersama Makanan Bergizi Gratis (MBG). Anak-anak tampak tak sabar menyantap menu hari itu; ayam kecap, tempe, capcai, serta jeruk sebagai pencuci mulut.

Stunting 'Tak Kasat Mata' di Daerah Penyangga Ibu Kota

Namun, di balik keceriaan yang merekah di lapangan sekolah tersebut, tersimpan realita kesehatan anak yang perlu diresahkan bersama.

Berdasarkan rilis Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) awal tahun 2025, angka stunting di Kabupaten Bogor masih berada di angka 7,59 persen.

Di SDN Sukamanah 01 sendiri, berdasarkan proses skrining awal tahun ajaran 2026 terjaring 29 siswa dari sekitar 600 anak yang masuk dalam kategori gizi kurang atau stunting. Mereka membutuhkan intervensi nutrisi khusus.

Maka dari itu JAPFA for Kids hadir mengintervensi persoalan ini lewat formula yang terukur yakni pemberian satu butir telur omega per hari, serta pemeriksaan perkembangan gizi setiap bulan selama satu semester.

Para siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Sukamanah 01, Megamendung, kabupaten Bogor.
Sumber :
  • Ammar Ramzi

Salah satu penerima manfaat tersebut adalah Akhtar, siswa kelas 3. Sekilas, tidak ada yang aneh dengan perawakan Akhtar. Ibunda Akhtar, Leni, mengaku terkejut saat pertama kali diberitahu kondisi fisik putranya.

"Jujur saya tidak tahu kalau Akhtar masuk kategori gizi kurang, karena saya jarang bawa dia ke Puskesmas dan kelihatannya sehat-sehat saja," cerita Leni, Jumat (21/8/2026). 

"Tapi memang di rumah anak saya agak pilih-pilih makanan, lebih senang jajan," imbuhnya.

Kondisi yang dialami Akhtar menggambarkan fenomena stunting atau masalah perawakan pendek yang tidak selalu kasat mata.

Pakar Gizi Ibu dan Anak dari Universitas Airlangga Prof. Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si., menjelaskan bahwa anak yang mengalami kondisi ini memang bisa tampak normal dari luar jika hanya mengamati berat badannya.

"Stunting ditentukan dari tinggi badan berdasarkan usia. Anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan harus memiliki pertambahan tinggi yang sejalur dengan kurva normal," terang Prof. Sri Sumarmi kepada tvOnenews.com, Jumat (28/8/2026).

Ia menambahkan, bagi anak usia sekolah, kondisi tinggi badan yang tidak sesuai usia, lebih tepat disebut perawakan pendek (stunted).

"Jika terlihat sehat dan tidak kurus, berarti status gizi berdasarkan berat badan menurut tinggi badannya tergolong normal. Namun, perawakan pendek pada usia sekolah umumnya mengindikasikan adanya riwayat stunting saat masa balita atau baduta (bawah dua tahun),” jelas Prof. Sri Sumarmi. 

“Kondisi ini menyimpan potensi risiko penurunan kemampuan kognisi karena perkembangan jaringan otak terjadi paling pesat pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan," lanjutnya.

Di usia SD ini, intervensi untuk mengejar tinggi badan belum terlambat.

Berdasarkan publikasi ilmiah di Jurnal Gizi Indonesia milik PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia), pertumbuhan tinggi badan linear anak Indonesia umumnya baru akan melambat secara signifikan dan berhenti tumbuh sepenuhnya di akhir masa pubertas, yaitu sekitar usia 18 hingga 20 tahun.

Kehadiran intervensi gizi ini disyukuri Leni sebagai bentuk kewaspadaan dini demi cita-cita besar sang buah hati.

"Alhamdulillah setelah rutin ikut program, baru sebulan berat badannya sekarang bertambah. Ini sangat membantu. Apalagi anak saya punya cita-cita ingin jadi polisi, semoga bisa tercapai," ujar Leni memupuk harapan.

Secercah Harapan di Bulan Pertama

Fasilitator JAPFA for Kids wilayah Megamendung Muhammad Trisna memaparkan bahwa terdapat total 127 siswa teridentifikasi mengalami gizi kurang yang tersebar di tujuh sekolah pendampingan di kawasan Megamendung.

"Setelah satu bulan intervensi, evaluasi pengukuran menunjukkan grafik yang positif. Rata-rata anak mengalami kenaikan berat badan antara 0,7 kg hingga 2 kg. Untuk pertambahan tinggi badan biasanya evaluasinya butuh waktu lebih lama," papar Trisna.

Dampak positif intervensi gizi di Megamendung oleh Japfa for Kids setelah satu bulan, Juli-Agustus 2026
Sumber :
  • Ammar Ramzi

Metode intervensi dilakukan secara ketat. Masing-masing anak mendapat jatah 7 butir telur omega per minggu.

Pada hari sekolah (Senin–Jumat), telur diolah oleh orang tua dan wajib dikonsumsi anak di sekolah sebagai protein hewani tambahan penyempurna menu MBG.

Sementara pada akhir pekan atau hari libur nasional, pemenuhan konsumsi telur dilanjutkan di rumah, di mana orang tua wajib mengirimkan foto bukti konsumsi ke wali kelas sebagai bentuk pemantauan berkala.

"Selain monitoring nutrisi, kami juga menggelar Hari Sehat JAPFA tiap pekan untuk mengedukasi siswa soal gizi seimbang, perilaku hidup bersih, pemeriksaan kuku, hingga evaluasi berkala dan MCU (Medical Check Up) guna mendeteksi ada atau tidaknya riwayat penyakit penyerta pada anak," tambah Trisna. 

Keberhasilan konsistensi anak makan telur tak lepas dari peran serta para pendamping di lapangan. Guru pendamping JAPFA for Kids di SDN Sukamanah 01 Salma Ulia mengungkapkan antusiasme orang tua yang terbantu dengan skema ini.

"Anak-anak yang tadinya agak GTM (Gerakan Tutup Mulut) atau susah makan di rumah, jadi lebih bersemangat karena makan bersama teman-temannya di sekolah," tutur Salma.

Kreasi olahan telur pun menjadi kunci agar anak tak merasa jenuh. Para ibu berkreasi mengubah telur menjadi telur ceplok dengan sayuran dibentuk karakter lucu, telur dadar dicampur daging cincang, hingga telur rebus dalam mangkuk sup hangat.

Tentu saja, perjalanan pendampingan ini bukan tanpa kendala.

"Tantangannya ada pada komunikasi. Ada sebagian orang tua yang tidak memiliki ponsel pintar, atau terkadang terkendala jam kerja sehingga harus mewakilkan ke tetangga saat sesi edukasi. Namun sekolah terus memfasilitasi agar pemantauan tidak terputus," jelasnya.

Kepala Sekolah SDN Sukamanah 01 Susi Susanti menyambut baik kolaborasi Lintas sektor ini. Menurutnya, persoalan penanganan gizi anak tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja.

"Penanganan gizi kurang membutuhkan gotong royong antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan pihak swasta. Kami bersyukur pendampingan ini berjalan aktif dan dampaknya terasa langsung pada anak-anak," ungkap Susi.

18 tahun kiprah Japfa for Kids
Sumber :
  • Ammar Ramzi

Langkah Panjang 18 Tahun Menjaga Gizi Anak Bangsa

Intervensi gizi di kaki Puncak ini merupakan bagian dari rekam jejak panjang. Direktur Corporate Affairs JAPFA Rachmat Indrajaya mencatat bahwa sejak digulirkan pertama kali pada tahun 2008 hingga 2025, program JAPFA for Kids telah menjangkau lebih dari 201.056 siswa, 13.541 guru, serta 1.214 sekolah di 27 provinsi se-Indonesia.

"Selama hampir 18 tahun, program ini bertransformasi dari sekadar edukasi menjadi pendekatan komprehensif. Perubahan perilaku anak tidak akan bertahan lama jika tidak ditopang oleh lingkungan sekolah dan keluarga. Karena itu, pendampingan wajib melibatkan guru dan orang tua," tutur Rachmat.

Langkah ini selaras dengan potret kesehatan anak secara nasional. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat bahwa 11,9 persen anak usia 5–12 tahun di Indonesia mengalami gizi lebih, 7,8 persen mengalami obesitas, sementara 11 persen lainnya berada dalam status gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Data evaluasi internal JAPFA menunjukkan tren perbaikan status kesehatan anak yang sangat signifikan di berbagai wilayah sasaran.

Pada periode evaluasi 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa yang sebelumnya teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk berhasil melompat naik ke status gizi baik. 

Angka keberhasilan ini mencapai 62,5 persen, meningkat pesat dibandingkan capaian tahun 2024 yang tercatat sebesar 51,5 persen (762 dari 1.479 siswa).

Bel masuk berbunyi. Lapangan yang tadinya riuh pelan-pelan kosong lagi. Senam, potong kuku yang rapi, cuci tangan pakai sabun, serta sebutir telur setiap hari mungkin terlihat seperti rutinitas kecil yang sepele. 

Namun dari langkah-langkah kecil inilah, fondasi kesehatan, tumbuh kembang, dan cita-cita "jadi polisi"-nya Akhtar serta impian jutaan anak Indonesia lain dibangun.

 
 
 
 
 
 
 
 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral