- Abdul Gani Siregar/tvOnenews
Niat Matikan Lampu Toko, Bambang Setiawan Malah Jadi Korban Jiwa Kerusuhan di Pejompongan
Jakarta, tvOnenews.com – Niat Bambang Setiawan (60) untuk sekadar mematikan lampu toko pada Kamis (27/8/2026) malam berujung petaka. Warga kawasan Penjompongan, Jakarta Pusat, itu keluar rumah di tengah situasi yang belum sepenuhnya kondusif setelah demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI.
Bambang yang sehari-hari berjualan kaca awalnya tidak berniat pergi jauh. Setelah sempat pulang ke rumah pada malam hari, ia hendak kembali ke Rumah Sakit Pelni untuk menemani seorang tetangganya yang sedang sakit.
Putra Bambang, Wisnu (35) mengatakan, sebelum pergi, Bambang sempat meminta kunci toko kepada istrinya. Ia menanyakan lampu toko yang masih menyala.
“Terus sampai ya singkat cerita ternyata Bapakku pulang ke rumah, itu ya aku enggak bisa pastiin jam berapa sih. Kalau enggak salah itu ada jam 11.00 malam lebih lah, 11.00 lewat hampir mau setengah 12.00 malam ya,” kata Wisnu kepada tvOnenews.com, di kawasan Penjompongan, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).
“Sempat ngobrol sama ibu, terus Bapak ke rumah, dia bawa makanan, terus dia juga mau bersih-bersih mungkin kan, terus mau balik lagi ke rumah sakit, tapi memang dia kan arahnya dari depan mungkin dia habis ngecek toko makanya minta kunci di rumah, minta kunci toko, tanya sama Ibu, ‘Itu kenapa belum dimatiin lampunya?’ gitu. Ya sudah, Bapak minta kunci, ‘Sini mana kuncinya?’ gitu,” sambungnya.
Wisnu menuturkan, sebelum keluar rumah, ayahnya dan sang ibu sempat menahan diri lantaran massa dari luar masuk ke gang.
“Tapi sebelum ke depan keluar rumah ternyata massa dari luar banyak masuk ke dalam (gang),” ungkap Wisnu dengan mata sembab kemerahan.
“Jadi sebelum Bapak keluar rumah sama Ibu tuh sempat ditahan, karena tuh ada massa dari samping rumah ya gang banyak masuk ke dalam, pokoknya lari ke arah dalam gitu kan, di gang ini sama Mama tuh dibilang, ‘Sudah jangan keluar, itu lagi pada masuk ke dalam nih ada massa.’ Enggak boleh, adikku juga di rumah,” lanjut dia.
Bambang akhirnya keluar setelah situasi dinilai mulai mereda. Putranya lebih dulu keluar rumah. Bambang kemudian menyusul.
Penglihatan Bambang disebut sudah mulai kabur dan dalam kesehariannya harus menggunakan kacamata. Karena itu, keluarga sebenarnya khawatir membiarkannya keluar seorang diri.
“Terus enggak lama ya mungkin mereka pikir keadaan sudah mulai kondusif, makanya mereka keluar, adikku keluar duluan. Enggak lama pas adikku jalan keluar ya menurut Ibuku, ‘Ya sudahlah ada anaknya ini yang bakalan lihatin gitu kan.’ Jadi keluarnya enggak sendiri karena kan memang Bapak saya itu penglihatannya sudah sedikit kabur karena kesehariannya harus pakai kacamata,” ungkap dia.
Namun, situasi di depan rumah ternyata belum benar-benar aman.
“Nah, setelah itu adikku ke depan, mungkin adikku tuh enggak terlalu ngeh kalau misalkan Bapak ikut keluar gitu. Nah, terus enggak lama kejadian itu ternyata massa masih ada di depan,” cerita Wisnu.
Bambang disebut hendak mematikan lampu toko karena cahaya dari dalam toko dapat membuat kondisi di dalam bangunan terlihat jelas dari luar. Terlebih, toko tersebut dipenuhi kaca yang menjadi sumber mata pencaharian keluarga.
“Setelah itu ya mungkin Bapakku ke depan berniat mau matiin lampu (toko) karena kan beliau jualan kaca keseharian, lampu nyala itu sangat kelihatan banget ke dalam, kalau di dalam ada kaca takutnya ada perusakan atau gimana kan,” jelas dia.
“Jadi mata pencaharian ya dibela-belain sampai segitunya Bapak. Terus sudah itu ya sudah enggak ada kabar lagi,” imbuhnya.
Sejak saat itu, Bambang tidak kembali ke rumah. Keluarga mulai panik ketika adik Wisnu menghubunginya dan memberitahukan bahwa Bambang belum juga pulang. Wisnu kemudian berupaya mencari keberadaan ayahnya, termasuk memastikan apakah Bambang masih berada di Rumah Sakit Pelni.
“Aku dapat telepon dari adikku dikabarin kalau misalkan ‘Mas, Bapak belum pulang.’ Coba dilihat dulu, karena kan pantauan aku tuh Bapak ada di Pelni, Rumah Sakit Pelni menemani temannya yang sakit,” jelas Wisnu dengan suara yang bergetar.
“Setelah itu, aku minta konfirmasikan coba tanya dulu siapa yang ada di Rumah Sakit Pelni, sudah sudah ditanya enggak ada. Coba telepon anaknya siapa tahu mungkin anaknya tahu, ternyata anaknya enggak tahu,” kata dia.
Pencarian kemudian diarahkan kepada orang-orang yang terakhir bertemu Bambang. Namun, tidak ada satu pun informasi yang bisa memastikan keberadaannya setelah ia meninggalkan rumah.
“Coba tanya di rumah terakhir ketemu sama Bapak tuh kapan? Sudah ditanya-tanya tanya tanya, ya beliau ini sempat ketemu sama beberapa orang, tapi jawabannya itu enggak ada yang setelah itu sudah enggak kelihatan lagi,” jelas dia.
Bambang kemudian diketahui menjadi korban dalam kerusuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan pada malam setelah demonstrasi 27 Agustus di depan Gedung DPR/MPR RI.
Polisi menyatakan masih menyelidiki kematian Bambang yang diduga menjadi korban pengeroyokan. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya masih mengumpulkan fakta-fakta hukum dari lokasi kejadian.
“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.
Polisi sebelumnya menerima laporan mengenai adanya korban pengeroyokan di kawasan tersebut. Namun, proses evakuasi tidak dapat dilakukan segera lantaran kondisi di lapangan masih belum kondusif.
“Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” kata Budi.
Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Mintoharjo. Nyawanya tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia. Jenazah Bambang selanjutnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani proses identifikasi dan visum. (agr/aag)