- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Luka Luar Sudah Memprihatinkan, Keluarga Tolak Autopsi Jenazah Bambang Setiawan: Enggak Tega
Jakarta, tvOnenews.com – Keluarga Bambang Setiawan (60), warga yang meninggal dunia setelah kerusuhan aksi demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, memilih menolak autopsi terhadap jenazah Bambang.
Keputusan itu diambil setelah keluarga melihat langsung kondisi tubuh Bambang yang disebut sudah sangat memprihatinkan.
Putra Bambang, Wisnu (35), mengatakan dirinya tiba di RS Polri Kramat Jati menjelang azan subuh untuk memastikan keberadaan sang ayah. Namun, ia masih harus menunggu sebelum diperbolehkan melihat jenazah Bambang.
“Rumah Sakit Polri itu aku sampai pas sebelum azan subuh lah ya, aku tanya di sana ada enggak jenazah atas nama Bambang? Ya aku harus disuruh menunggu, Bapak penyidik atau ya aku harus meminta izin, ya aku enggak tahulah prosedurnya kan setiap tempat ada prosedurnya dan kita harus menghormati itu,” jelas dia, kepada tvOnenews.com, di kawasan Penjompongan, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).
Setelah menunggu beberapa jam, Wisnu akhirnya dapat melihat jenazah ayahnya sekitar pukul 07.00-08.00 WIB. Kondisi jenazah yang dilihatnya membuat keluarga kemudian mempertimbangkan kembali proses pemeriksaan lebih lanjut.
“Aku baru bisa ketemu sama almarhum jenazahnya aku baru bisa lihat ya dengan kondisi yang memprihatinkan kan sih di jam 07.00, jam 08.00 pagi,” kata dia.
Pada saat itu, pihak kepolisian menawarkan kepada keluarga pilihan terkait penanganan jenazah, termasuk autopsi maupun visum.
“Nah dari situ dari pihak Kabid Humas juga ada dari Polda menawarkan untuk mau diproses seperti apa, mau dilakukan autopsi atau enggak, visum atau enggak ya aku minta izin sama dia buat ‘Mohon maaf Pak saya bertanya dulu komunikasi dulu sama keluargalah karena kan saya enggak bisa ngambil keputusan sendiri. Aku harus diskusi’,” tutur Wisnu.
Wisnu kemudian menghubungi keluarga untuk mengambil keputusan bersama. Setelah berdiskusi, keluarga sepakat tidak melakukan visum maupun autopsi bagian dalam terhadap jenazah Bambang.
Keputusan tersebut, kata Wisnu, bukan karena keluarga menganggap pemeriksaan tidak penting, melainkan karena mereka tidak tega melihat kondisi jenazah Bambang menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Setelah itu ya setelah aku minta izin buat aku menghubungi keluarga ya kita putuskan untuk enggak dilakukan visum karena tanpa melakukan, ini asumsi aku sendiri ya tanpa melakukan visum sekalipun, atau autopsi bagian dalam, itu luka luarnya juga memprihatinkan. Jadi aku juga enggak enggak tega dan keluarga juga enggak tega untuk dilakukan ya visum dalam gitu,” ucap dia.
Setelah keputusan tersebut diambil, keluarga meminta agar jenazah segera dipersiapkan untuk dimakamkan.
“Ya dengan itu ya aku minta sudah langsung diberesin, minta rapihin dimandikan dan dikafani terus kita salatin, kita berangkat dari sana juga sebelum azan. Aku sampai sini (rumah) karena itu sudah Jumatan sudah mulai Jumatan,” tuturnya.
Meski keluarga memilih tidak melakukan autopsi, Wisnu mengatakan pihak kepolisian tetap menyampaikan bahwa proses penyelidikan terhadap kasus tersebut akan terus berjalan.
“Ya aku juga berterima kasih sudah dibantu sama pihak-pihak yang terkait, sudah diberi kemudahan juga sudah ditolong, terus mereka juga menawarkan segala macam bantuan kayak penyelidikan bakal terus berjalan,” tegas dia.
Karena itu, keluarga masih menunggu perkembangan penyelidikan mengenai kematian Bambang, termasuk apakah pihak yang diduga terlibat telah berhasil diidentifikasi atau ditangkap.
“Makanya saya juga masih menunggu update kasusnya kayak gimana, saya juga masih menunggu update beritanya kayak gimana apakah memang sudah ditemukan (pelakunya) atau belum gitu karena dari Pak Kabid Humasnya sendiri bakal komunikasi juga,” tandasnya.
Wisnu mengatakan pihak Polda juga menjanjikan informasi terbaru kepada keluarga apabila terdapat perkembangan dalam pendalaman kasus tersebut.
Bambang diketahui meninggal setelah diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan pada Kamis (27/8/2026) malam, ketika kerusuhan terjadi setelah demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI.
Polisi menyatakan masih menyelidiki kematian Bambang. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya hingga kini masih mengumpulkan fakta-fakta hukum terkait kejadian tersebut.
“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.
Polisi sebelumnya menerima laporan mengenai adanya korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan. Namun, evakuasi tidak dapat langsung dilakukan karena situasi di lokasi masih belum kondusif.
“Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” kata Budi.
Bambang kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Mintohardjo. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya selanjutnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. (agr/aag)