news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Wisnu, anak korban jiwa Bambang Setiawan yang tewas di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pascademo 27 Agustus 2026..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar

Pesan Bambang Korban Tewas di Pejompongan yang Diingat Sang Anak: Berbuat Baik Jangan Pilih-pilih

Salah satu pesan Bambang Setiawan (60) yang paling melekat dalam ingata sang keluarga adalah agar anak-anaknya selalu berbuat baik kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan.
Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:37 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Duka mendalam dirasakan Wisnu (35), anak Bambang Setiawan (60), korban jiwa dalam peristiwa pengeroyokan saat aksi demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis malam, 27 Agustus 2026.

Di tengah kehilangan tersebut, Wisnu mengenang sejumlah pesan hidup yang kerap disampaikan sang ayah. Salah satu pesan yang paling melekat dalam ingatannya adalah agar anak-anaknya selalu berbuat baik kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan.

“Pesan-pesannya yang aku ingat sih ya dia selalu ngajarin kalau misalkan berbuat baik sama orang tuh jangan pilih-pilih, karena kita enggak tahu kebaikan mana yang bakal bawa kita ke depannya gitu. Itu yang aku simpan tuh yang aku ingat,” kata Wisnu, kepada tvOnenews.com, di kawasan Penjompongan, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).

Bagi Wisnu, pesan tersebut menggambarkan prinsip yang selama ini dipegang Bambang dalam menjalani kehidupan. Sang ayah juga selalu mengajarkan pentingnya konsistensi dan konsekuensi atas setiap tindakan.

“Dan Bapakku tuh jadi manusia harus ya konsisten, konsekuen sama setiap apa yang kita lakuin gitu,” tegasnya.

Wisnu menggambarkan Bambang sebagai sosok yang sangat disiplin. Rutinitas yang dijalani sang ayah begitu teratur hingga orang-orang terdekatnya mengetahui kebiasaannya sehari-hari.

“Karena memang dia orang disiplin banget apa yang dilakukan keseharian ya sudah, kita tahu langkahnya dia kalau misalkan dia mau buka toko (cermin) ya yang aku lihat dari kesehariannya apa yang dilakuin pertama pasti selalu itu kayak gitu, bahkan sampai dia jam segini ada di mana saja tuh kita tahu,” ungkap Wisnu.

“Bukan cuma aku bahkan semua teman-temannya yang kenal dekat sama dia tuh pada tahu. Biasanya jam segini dia lagi begini nih, selalu kayak gitu,” sambungnya.

Namun, justru setelah Bambang meninggal, Wisnu mengaku semakin banyak mengetahui bagaimana sang ayah menjalani kesehariannya. Kesibukan masing-masing membuat keduanya tidak selalu memiliki waktu untuk berbincang panjang.

“Aku dapat cerita itu semenjak pas beliau enggak ada, aku banyak tahu lah tentang keseharian dia karena kan aku juga enggak sering gitu ketemu Bapak gitu kan karena kan aku juga ada aktivitas di luar, harus harus kerja, Bapak juga harus dengan kegiatannya jualan,” kenang Wisnu dengan air mata yang berlinang.

“Jadi dengan kesibukan kita masing-masing yang kayak kita ketemu cuma buat ngobrol sebentar bahkan yang akunya juga sudah capek dari kerjaan kadang cuma ngobrol say hello nanya sudah makan apa belum, selalu kayak gitu,” imbuh dia.

Di balik kenangan tentang sosok ayah yang disiplin, tersimpan penyesalan yang kini menjadi beban bagi Wisnu. Ia merasa bersalah karena tidak berada di sisi Bambang pada saat-saat terakhir kehidupannya.

“Gitu jadi di saat terakhirnya tuh aku enggak bisa yang nemenin dia gitu loh. Padahal dia selalu sempatin waktunya buat aku, aku sakit dia selalu sempatin buat datang buat nemenin, tapi pas saat terakhir-akhirnya Bapak tuh saya enggak nemenin. Itu yang bikin jadi berat buat saya gitu, itu saja sih,” tutupnya.

Bambang diketahui meninggal setelah diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan pada Kamis (27/8/2026) malam, ketika kerusuhan terjadi setelah demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI.

Polisi menyatakan masih menyelidiki kematian Bambang. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya hingga kini masih mengumpulkan fakta-fakta hukum terkait kejadian tersebut.

“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.

Polisi sebelumnya menerima laporan mengenai adanya korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan. Namun, evakuasi tidak dapat langsung dilakukan karena situasi di lokasi masih belum kondusif.

“Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” kata Budi.

Bambang kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Mintohardjo. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya selanjutnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. (agr/rpi)

 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral