- Instagram @damkar_kamboja_pky
September Diprediksi Puncak Karhutla, Pemerintah Siapkan Modifikasi Cuaca hingga 1.000 Personel Tambahan
"Termasuk kami juga di Kementerian Kehutanan berusaha untuk melakukan BKO sekitar 1.000 orang lebih, bertambah," ucap dia.
September Jadi Puncak Kemarau
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mencapai puncak musim kemarau pada September 2026.
Sebanyak 169 Zona Musim (ZOM) diprediksi memasuki atau berada pada periode puncak kemarau bulan ini. Wilayah tersebut mencakup 25,41 persen dari total luas daratan Indonesia.
Puncak kemarau menyebabkan kondisi kering semakin meluas, seiring dengan musim kemarau dan penguatan dinamika iklim.
Kondisi tersebut diperkirakan mulai berkurang saat Indonesia memasuki periode peralihan menuju musim hujan pada Oktober hingga November 2026.
"Adapun pada September 2026, puncak musim kemarau diprediksi terjadi di 169 ZOM yang mencakup 25,41 persen luas daratan Indonesia," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.
946 Hotspot Terdeteksi
Data Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) yang berasal dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan masih tingginya aktivitas hotspot.
Hingga Minggu (30/8/2026) pukul 21.02 WIB, sebanyak 946 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut berkurang 629 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Hotspot tersebut tersebar di:
* Kalimantan Barat: 455 titik
* Kalimantan Tengah: 308 titik
* Sumatera Selatan: 36 titik
* Kalimantan Selatan: 18 titik
* Jambi: 1 titik
Meski jumlah hotspot secara nasional menurun, konsentrasi titik panas masih tinggi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Laporan Ringkasan Operasi Dalkarhut per Minggu (30/8/2026) pukul 07.00 WIB mencatat 93 kejadian karhutla di 12 provinsi.
Dari jumlah tersebut, 33 lokasi telah berhasil dipadamkan, sedangkan 60 lokasi lainnya masih ditangani.
Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah lokasi yang paling banyak ditangani, yakni 21 lokasi. Berikutnya Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi 9 lokasi, Riau 8 lokasi, dan Kalimantan Timur 7 lokasi.
Sepanjang 2026, operasi penanganan karhutla telah dilakukan sebanyak 4.801 kali. Total luas areal yang ditangani mencapai 38.829,46 hektare.
Penanganan dilakukan tim gabungan melalui pemadaman dari darat, water bombing, patroli udara, ground check, serta upaya pencegahan dan pengendalian di wilayah yang menjadi prioritas.
Untuk memperkuat operasi udara, pemerintah mengerahkan 30 helikopter di Kalimantan dan 22 helikopter di Sumatera. Armada tersebut digunakan untuk mendukung water bombing dan patroli udara.