news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kepanikan warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah saat api Karhutla mendekati permukiman.
Sumber :
  • Instagram @damkar_kamboja_pky

September Diprediksi Puncak Karhutla, Pemerintah Siapkan Modifikasi Cuaca hingga 1.000 Personel Tambahan

Menteri Kehutanan Raja Antoni mengatakan kondisi tersebut membuat September menjadi periode penting dalam penanganan karhutla.
Selasa, 1 September 2026 - 08:12 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan terjadi sepanjang September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan peluang hujan baru meningkat pada awal Oktober 2026.

Menteri Kehutanan Raja Antoni mengatakan kondisi tersebut membuat September menjadi periode penting dalam penanganan karhutla. Pemerintah pun mengoptimalkan berbagai strategi, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), water bombing, hingga pengerahan pasukan pemadam di darat.

"Karena September ini kita di puncak ya, di puncak. Mudah-mudahan betul nanti kalau misalkan September sudah ada hujan. Tapi kalau tadi kita dengarkan dari BMKG, saya dengar baru awal Oktober nanti ada potensi hujan. Jadi sebulan ini adalah battleground kita," kata Raja Antoni dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 31 Agustus 2026.

Menurut Raja, OMC perlu dimanfaatkan secara maksimal selama masih tersedia peluang terbentuknya awan yang dapat menghasilkan hujan. Teknologi tersebut dinilai menjadi salah satu langkah paling efektif untuk membantu mengendalikan karhutla.

"Karena bagaimanapun yang paling efektif ini memang OMC. Operasi Modifikasi Cuaca. Dan mumpung kita masih punya window untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca ini kita minta saran dari OMC," ujarnya.

Selain OMC dan pemadaman melalui udara, pemerintah memperkuat penanganan di darat. Personel satuan tugas darat akan ditempatkan berdasarkan wilayah dengan jumlah hotspot tinggi.

Raja meminta pengaturan personel dilakukan secara bergiliran agar kemampuan fisik petugas tetap terjaga selama operasi berlangsung.

"Yang ketiga tentu saja pasukan darat, satgas darat. Saya berharap sekali nanti deployment-nya bisa diatur sedemikian mungkin Pak. Di tempat masing-masing yang banyak hotspot-nya, berapa kali sehari mereka harus bergantian," katanya dalam rapat.

Tambah 1.000 Personel BKO

Kementerian Kehutanan menyiapkan lebih dari 1.000 personel tambahan melalui mekanisme Bawah Kendali Operasi (BKO) untuk memperkuat penanganan karhutla di lapangan.

Penambahan personel tersebut ditujukan untuk mendukung pekerjaan pasukan utama sekaligus mengurangi risiko kelelahan petugas yang berada di lokasi kebakaran.

Personel yang tidak memiliki kemampuan teknis pemadaman tetap dapat dilibatkan dalam pekerjaan pendukung operasi.

"Termasuk kami juga di Kementerian Kehutanan berusaha untuk melakukan BKO sekitar 1.000 orang lebih, bertambah," ucap dia.

September Jadi Puncak Kemarau

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mencapai puncak musim kemarau pada September 2026.

Sebanyak 169 Zona Musim (ZOM) diprediksi memasuki atau berada pada periode puncak kemarau bulan ini. Wilayah tersebut mencakup 25,41 persen dari total luas daratan Indonesia.

Puncak kemarau menyebabkan kondisi kering semakin meluas, seiring dengan musim kemarau dan penguatan dinamika iklim.

Kondisi tersebut diperkirakan mulai berkurang saat Indonesia memasuki periode peralihan menuju musim hujan pada Oktober hingga November 2026.

"Adapun pada September 2026, puncak musim kemarau diprediksi terjadi di 169 ZOM yang mencakup 25,41 persen luas daratan Indonesia," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.

946 Hotspot Terdeteksi

Data Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) yang berasal dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan masih tingginya aktivitas hotspot.

Hingga Minggu (30/8/2026) pukul 21.02 WIB, sebanyak 946 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut berkurang 629 titik dibandingkan sehari sebelumnya.

Hotspot tersebut tersebar di:

* Kalimantan Barat: 455 titik
* Kalimantan Tengah: 308 titik
* Sumatera Selatan: 36 titik
* Kalimantan Selatan: 18 titik
* Jambi: 1 titik

Meski jumlah hotspot secara nasional menurun, konsentrasi titik panas masih tinggi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Laporan Ringkasan Operasi Dalkarhut per Minggu (30/8/2026) pukul 07.00 WIB mencatat 93 kejadian karhutla di 12 provinsi.

Dari jumlah tersebut, 33 lokasi telah berhasil dipadamkan, sedangkan 60 lokasi lainnya masih ditangani.

Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah lokasi yang paling banyak ditangani, yakni 21 lokasi. Berikutnya Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi 9 lokasi, Riau 8 lokasi, dan Kalimantan Timur 7 lokasi.

Sepanjang 2026, operasi penanganan karhutla telah dilakukan sebanyak 4.801 kali. Total luas areal yang ditangani mencapai 38.829,46 hektare.

Penanganan dilakukan tim gabungan melalui pemadaman dari darat, water bombing, patroli udara, ground check, serta upaya pencegahan dan pengendalian di wilayah yang menjadi prioritas.

Untuk memperkuat operasi udara, pemerintah mengerahkan 30 helikopter di Kalimantan dan 22 helikopter di Sumatera. Armada tersebut digunakan untuk mendukung water bombing dan patroli udara.

Asap Ganggu Jarak Pandang Bandara

Kabut asap akibat karhutla mulai berdampak terhadap jarak pandang di sejumlah bandar udara.

Pemantauan BMKG pada Senin (31/8/2026) pagi menunjukkan Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, mengalami kondisi berasap. Jarak pandang tercatat 1,3 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Kondisi serupa terjadi di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Jarak pandang di bandara tersebut berada pada 1,5 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Di Sumatera, kondisi berasap terpantau di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Jarak pandang mencapai 4 kilometer pada pukul 07.30 WIB.

Bandara Sultan Thaha, Jambi, juga mengalami kondisi berasap dengan jarak pandang 5 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Sementara itu, Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, tercatat mengalami kondisi berasap dengan jarak pandang 3 kilometer pada pukul 09.00 Wita.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral