- Antara
Karhutla Ditangani, Kepentingan Indonesia di Vladivostok Tetap Berjalan
Pada 2010, Amerika Serikat menghadapi Deepwater Horizon, salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarahnya.
Minyak terus mengalir ke Teluk Meksiko, mencemari ekosistem serta mengganggu kehidupan dan perekonomian masyarakat di sepanjang Gulf Coast.
Pada 25–27 Juni 2010, ketika operasi penanganan Deepwater Horizon masi berlangsung, Presiden Obama tetap meninggalkan Amerika Serikat untuk menghadiri G8 dan G20 Economic Summit di Kanada.
Memang benar, kehadiran seorang pemimpin negara di saat krisis dalam negeri sangat dibutuhkan. Namun kehadiran Prabowo di EEF Summit Vladivostok tidak bisa disamakan dengan kunjungan PM Inggris, James Callaghan yang pergi ke Karibia untuk menghadiri Guadeloupe Summit pada 4–6 Januari 1979, di saat Inggris sedang berada dalam periode Winter of Discontent.
Gelombang pemogokan melanda berbagai sektor, pelayanan publik terganggu, pengangkutan barang menghadapi tekanan, sampah bahkan mayat menumpuk di sejumlah kota.
Callaghan bahkan sempat menghabiskan beberapa hari berlibur dan berjemur di Barbados sebelum kembali ke Inggris yang sedang musim dingin.
Vladivostok Adalah Kepentingan Indonesia
Kehadiran Presiden Prabowo di Vladivostok juga bukan perjalanan liburan. Presiden hadir sebagai tamu kehormatan utama Eastern Economic Forum ke- 11 atas undangan Presiden Vladimir Putin, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia, serta menyampaikan posisi Indonesia di hadapan pemerintah, investor dan pelaku ekonomi dari berbagai negara.
Di tengah perdagangan dunia yang semakin terfragmentasi dan rantai pasok yang semakin dipengaruhi persaingan geopolitik, Indonesia berkepentingan membuka sebanyak mungkin jalur perdagangan, investasi dan konektivitas baru.
Presiden Prabowo bahkan menggunakan forum tersebut untuk kembali menegaskan prinsip politik luar negeri Indonesia yang terbuka dan nonblok serta pentingnya membangun jembatan ekonomi dengan berbagai kekuatan dunia.
Menurut pengamat Hubungan Internasional, Prof. Anak Agung Banyu Perwita, Kunjungan ini juga menjadi sarana diplomasi tingkat tinggi untuk memajukan dua tujuan strategis utama, yaitu: ketahanan energi dan redefinisi peran Indonesia di kawasan Asia-Pasifik.
Narasi ini melampaui bukan saja sekadar aspek geografis, melainkan juga geopolitik dan geoekonomi. Hal ini mencerminkan visi di mana Indonesia dan Rusia bukanlah kekuatan yang berjauhan, melainkan mitra alami yang terhubung oleh Samudra Pasifik.