- Istimewa
Gunung Anak Krakatau Keluarkan 'Air Mancur Lava', Apa Itu Fenomena Lava Fountain?
tvOnenews.com - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus dan memperlihatkan fenomena vulkanik yang menarik perhatian, yakni lava fountain atau air mancur lava.
Fenomena tersebut terlihat berupa semburan berwarna merah menyala yang keluar secara terus-menerus dari pusat erupsi.
Aktivitas ini juga disertai suara gemuruh serta getaran yang dilaporkan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Lampung, hingga Jawa Barat.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa erupsi menerus Gunung Anak Krakatau mulai terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.
- tvOnenews
Dalam pengamatan hingga 5 September, warna merah menyala dari semburan erupsi terlihat jelas secara terus-menerus dan fenomena tersebut diinterpretasikan menyerupai lava fountain.
Lantas, apa sebenarnya lava fountain dan mengapa lava bisa menyembur seperti air mancur?
Apa Itu Lava Fountain?
Secara sederhana, lava fountain adalah fenomena ketika lava pijar menyembur keluar dari lubang erupsi ke udara secara terus-menerus sehingga bentuknya menyerupai air mancur.
Fenomena ini berbeda dari gambaran letusan gunung api yang hanya berupa kepulan abu atau kolom erupsi tinggi.
Pada lava fountain, material yang terlihat dominan adalah magma yang sudah keluar ke permukaan sebagai lava pijar dan terdorong ke udara oleh tekanan gas di dalam sistem vulkanik.
Badan Geologi menyebut fenomena lava fountain dapat menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus selama beberapa jam yang berasosiasi dengan aktivitas air mancur lava juga merupakan fenomena yang umum terjadi pada gunung api tertentu.
Dalam laporan khusus terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi menyatakan bahwa tinggi kolom erupsi tidak teramati, tetapi semburan berwarna merah menyala terlihat secara menerus. Fenomena tersebut kemudian diinterpretasikan menyerupai lava fountain.
Dengan kata lain, warna merah menyala yang terlihat dari kejauhan merupakan material lava bersuhu sangat tinggi yang sedang terlontar dari pusat erupsi.
Mengapa Lava Bisa Menyembur seperti Air Mancur?
Kunci dari terbentuknya lava fountain berada pada gas yang terkandung di dalam magma.
Magma yang berada jauh di bawah permukaan Bumi mengandung berbagai gas vulkanik yang terlarut di dalamnya. Ketika magma bergerak naik menuju permukaan, tekanan di sekitarnya semakin berkurang.
Kondisi ini memungkinkan gas yang sebelumnya terlarut mulai membentuk gelembung dan mengembang.
Jika gas tersebut tidak dapat keluar dengan cukup cepat, tekanan di dalam magma meningkat. Ketika magma akhirnya mencapai saluran atau lubang erupsi, campuran gas dan material cair dapat terdorong keluar dengan kuat sehingga menghasilkan semburan lava ke udara.
US Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa lava fountain terbentuk ketika gas yang berada di dalam magma tidak dapat keluar cukup cepat saat magma naik menuju permukaan.
Kondisi tersebut menghasilkan campuran lava dan gas yang menyembur ke udara.
Proses tersebut dapat dibayangkan seperti membuka minuman bersoda yang telah dikocok. Ketika tutup dibuka dengan cepat, gas yang sebelumnya tertekan akan mengembang dan mendorong cairan keluar.
Bedanya, pada gunung api, material yang terdorong keluar bukan minuman, melainkan magma bersuhu sangat tinggi.
Mengapa Lava Fountain Berwarna Merah Menyala?
Warna merah atau jingga terang yang terlihat pada lava fountain berasal dari panas lava yang masih sangat tinggi.
Ketika lava pijar keluar dari kawah dan terlempar ke udara, material tersebut memancarkan cahaya. Semakin panas material, semakin terang pula pendarannya.
Pada malam hari, fenomena tersebut menjadi jauh lebih mudah terlihat karena kontras antara lava yang berpijar dengan kondisi lingkungan yang gelap.
Material yang terlontar tidak semuanya tetap berada di udara. Setelah kehilangan energi dan mendingin, sebagian material dapat jatuh kembali di sekitar pusat erupsi.
Sementara itu, lava yang tetap cair dapat mengalir mengikuti permukaan lereng gunung.
Itulah sebabnya fenomena lava fountain tidak hanya menghasilkan semburan pijar, tetapi juga dapat berasosiasi dengan aliran lava.
Lava fountain umumnya berkaitan dengan magma yang relatif cair, terutama magma basaltik.
Magma dengan viskositas lebih rendah lebih mudah bergerak melalui saluran vulkanik. Gas yang terlarut di dalamnya juga dapat membentuk gelembung ketika tekanan menurun selama magma naik.
USGS mencatat bahwa lava fountain dikenal sebagai salah satu bentuk Hawaiian explosive activity. Nama tersebut merujuk pada tipe aktivitas erupsi yang banyak diamati di Hawaii, termasuk Gunung Kīlauea.
Fenomena serupa juga dapat terjadi pada pusat vulkanik basaltik lainnya, seperti Gunung Etna di Sisilia.
Namun, istilah "Hawaiian" dalam konteks ini tidak berarti fenomena tersebut hanya terjadi di Hawaii.
Lava fountain dapat muncul pada gunung api lain dengan kondisi magma dan sistem erupsi yang mendukung.
Kemunculan lava fountain tidak otomatis berarti sebuah gunung api sedang mengalami letusan terbesar atau paling berbahaya.
Mengapa Erupsi Anak Krakatau Disertai Gemuruh dan Getaran?
Selain semburan lava pijar, aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 5 September 2026 juga disertai suara gemuruh dan dentuman.
Badan Geologi menyebut laporan suara dentuman dan getaran dari masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.
Sejumlah warga bahkan melaporkan pintu dan jendela rumah bergetar.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa aktivitas erupsi tidak hanya dapat diamati secara visual, tetapi juga menghasilkan energi yang dapat menimbulkan gangguan suara maupun getaran di wilayah tertentu.
Meski demikian, seberapa kuat getaran yang dirasakan di suatu lokasi dapat berbeda-beda, bergantung pada sumber aktivitas, jarak, kondisi geologi setempat, dan karakter gelombang yang merambat.
Apakah Lava Fountain Anak Krakatau Berbahaya?
Meski terlihat spektakuler, lava fountain tetap merupakan fenomena erupsi yang berbahaya jika didekati.
Bahaya tidak hanya berasal dari lava yang mengalir, tetapi juga dapat berupa lontaran batu pijar, material vulkanik, abu, serta bahaya lain yang berkaitan dengan perubahan aktivitas gunung api.
Dalam laporan 5 September 2026, Badan Geologi menyatakan bahwa potensi ancaman bahaya saat itu berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.
Masyarakat, wisatawan, dan pendaki juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.
Pada perkembangan berikutnya, abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau juga berdampak pada sejumlah wilayah.
Reuters melaporkan bahwa abu bahkan menyebabkan gangguan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta pada 6 September 2026.
Lava fountain pada dasarnya merupakan salah satu bentuk aktivitas vulkanik ketika magma cair yang mengandung gas terdorong keluar melalui lubang erupsi dan menyembur ke udara seperti air mancur.
Bagi masyarakat di sekitar Selat Sunda, pemandangan lava fountain mungkin terlihat spektakuler dari kejauhan.
Akan tetapi, keindahan semburan lava tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan risiko erupsi.
Selama Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga), masyarakat perlu mematuhi zona yang ditetapkan, tidak mendekati kawah aktif, dan mengikuti informasi terbaru dari Badan Geologi, PVMBG, BNPB, serta BPBD setempat.
(tsy)