news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Senin Pagi! Gunung Anak Krakatau Meletus 10 Kali.
Sumber :
  • istimewa - Antara

Bukan Gunung Biasa, Mengenal Sejarah Gunung Anak Krakatau dari Letusan 1883 hingga Erupsi 2026

Mengenal lebih dalam sejarah Gunung Anak Krakatau, dari letusan dahsyat Krakatau 1883, kemunculannya pada 1929, hingga erupsi terbaru pada September 2026.
Minggu, 6 September 2026 - 13:34 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik di perairan Selat Sunda.

Pada September 2026, gunung api muda tersebut mengalami erupsi menerus yang menghasilkan semburan merah menyala dan diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava.

Aktivitas ini kembali menarik perhatian karena Anak Krakatau bukan sekadar gunung api aktif biasa. Gunung tersebut merupakan bagian dari kompleks vulkanik Krakatau dan terbentuk setelah salah satu letusan terbesar dalam sejarah modern pada 1883.

Sejak muncul ke permukaan laut hampir satu abad lalu, Anak Krakatau terus mengalami proses pertumbuhan melalui aktivitas vulkanik.

Tubuhnya dapat bertambah akibat penumpukan lava dan material erupsi, tetapi pada saat yang sama juga dapat berubah atau bahkan runtuh akibat aktivitas vulkanik.

Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah Gunung Anak Krakatau dan seperti apa perjalanan erupsinya hingga aktivitas terbaru pada 2026?

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi pada September 2026

Suara Gemuruh Terdengar ke Banten! Erupsi Gunung Anak Krakatau Berlangsung 5 Jam
Sumber :
  • tvOnenews

Aktivitas terbaru Gunung Anak Krakatau mulai meningkat pada Jumat, 4 September 2026, sebelum memasuki fase erupsi menerus pada malam harinya.

Badan Geologi mencatat erupsi menerus mulai terjadi pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Dalam pengamatan, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Namun, semburan berwarna merah menyala terlihat secara terus-menerus. 

Badan Geologi menginterpretasikan karakter erupsi tersebut menyerupai lava fountain, yaitu semburan lava pijar yang keluar dari pusat erupsi dan dapat membentuk aliran lava.

Suara dentuman dan getaran juga dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Badan Geologi menyebut fenomena tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu yang sama.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Apa Itu Gunung Anak Krakatau?

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Meski berada di wilayah Lampung, pemantauan gunung ini dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Keunikan utama Anak Krakatau adalah usianya yang relatif muda.

Gunung ini tidak berdiri sebagai gunung yang sudah terbentuk sejak ribuan atau jutaan tahun lalu. Anak Krakatau tumbuh di kawasan kaldera yang terbentuk setelah kehancuran besar kompleks vulkanik Krakatau pada 1883.

Dengan kata lain, Anak Krakatau merupakan gunung api yang tubuhnya masih berada dalam proses pembangunan oleh aktivitas magma dari dalam bumi.

Sejarah Letusan Krakatau 1883

Untuk memahami sejarah Anak Krakatau, kita harus kembali ke tahun 1883.

Pada tahun tersebut, kompleks vulkanik Krakatau mengalami erupsi dahsyat yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera di kawasan Selat Sunda.

Letusan tersebut juga menghasilkan tsunami besar. Catatan Badan Geologi menyebut peristiwa 1883 sebagai salah satu catatan penting dalam sejarah aktivitas Krakatau karena erupsi besar tersebut menghasilkan tsunami.

Tsunami yang berkaitan dengan letusan Krakatau 1883 menjadi salah satu alasan kawasan tersebut memiliki sejarah panjang mengenai hubungan antara aktivitas vulkanik dan bahaya tsunami.

Namun, Krakatau tidak benar-benar berhenti aktif setelah letusan tersebut.

Aktivitas vulkanik kemudian kembali muncul dari kawasan kaldera dan menjadi awal perjalanan terbentuknya gunung baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Bagaimana Gunung Anak Krakatau Bisa Muncul?

Menurut catatan resmi Kementerian ESDM, aktivitas erupsi pascapembentukan Anak Krakatau mulai tercatat pada 1927, ketika tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut.

Material vulkanik yang terus dikeluarkan kemudian menumpuk. Proses tersebut berlangsung secara bertahap hingga tubuh gunung akhirnya muncul ke permukaan laut pada 1929.

Sejak saat itu, Anak Krakatau memasuki fase konstruksi.

Istilah konstruksi dalam konteks ini berarti gunung terus membangun tubuhnya melalui penumpukan material hasil aktivitas vulkanik. Lava yang membeku, abu, batuan, dan material vulkanik lainnya dapat menambah volume gunung.

Proses tersebut tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Ada periode ketika aktivitas sangat aktif dan ada pula masa ketika erupsi lebih jarang.

Salah satu hal menarik dari Anak Krakatau adalah bentuknya yang tidak permanen.

Gunung api pada dasarnya merupakan sistem dinamis. Ketika magma naik dan keluar melalui kawah, material baru dapat menumpuk di sekitar pusat erupsi. Jika proses tersebut terjadi berulang kali, tubuh gunung bisa bertambah besar.

Namun, proses yang sama juga dapat menyebabkan perubahan bentuk.

Aktivitas erupsi dapat melemahkan atau mengubah struktur lereng. Material yang menumpuk di atas lereng juga dapat menjadi tidak stabil. Dalam kondisi tertentu, sebagian tubuh gunung dapat runtuh.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu aspek paling penting dalam sejarah modern Anak Krakatau.

Riwayat Erupsi Anak Krakatau Sebelum 2018

Sebagai gunung api muda yang aktif, Anak Krakatau telah mengalami berbagai fase erupsi sejak kemunculannya.

Kementerian ESDM mencatat, misalnya, erupsi terjadi pada 20 Juni 2016, kemudian pada 19 Februari 2017 dalam bentuk erupsi Strombolian. Aktivitas erupsi kembali berlangsung sejak 29 Juni 2018.

Erupsi Strombolian umumnya ditandai oleh letusan-letusan yang melontarkan material pijar dan abu dari kawah. Aktivitas seperti ini menjadi bagian dari proses Anak Krakatau dalam terus membangun dan mengubah tubuhnya.

Rangkaian aktivitas tersebut kemudian berlanjut hingga mencapai salah satu episode paling penting pada akhir 2018.

Erupsi Anak Krakatau 2018 dan Tsunami Selat Sunda

Visual Gunung Anak Krakatau yang terlihat dari CCTV Pos Pantau Sertung Atas.
Sumber :
  • Tim tvOne/Pujiansyah

Pada 2018, Gunung Anak Krakatau mengalami aktivitas vulkanik yang berlangsung berbulan-bulan.

Pada 22 Desember 2018, terjadi tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Berbeda dengan banyak tsunami besar di Indonesia yang dipicu gempa bumi tektonik, tsunami Selat Sunda 2018 berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Analisis Kementerian ESDM menyebut tsunami tersebut kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau runtuhnya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut, terutama pada sektor selatan dan barat daya.

BMKG juga menyatakan tsunami tersebut tidak dipicu oleh gempa bumi tektonik. Aktivitas erupsi Anak Krakatau menjadi bagian penting dalam rangkaian kejadian sebelum tsunami.

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa ancaman Gunung Anak Krakatau tidak hanya berupa lava, abu vulkanik, atau lontaran batu pijar.

Perubahan bentuk dan runtuhnya tubuh gunung ke laut juga dapat menimbulkan bahaya tsunami.

Setelah 2018, Anak Krakatau Kembali Membangun Tubuhnya

Erupsi dan longsoran pada 2018 menyebabkan perubahan besar pada bentuk Gunung Anak Krakatau.

Setelah peristiwa tersebut, aktivitas erupsi berskala rendah terus berlangsung hingga 16 Desember 2023.

Badan Geologi menyebut rangkaian erupsi tersebut merupakan bagian dari fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau.

Setelah mengalami jeda, aktivitas erupsi kembali tercatat pada 2 Juli 2026.

Sejak tanggal tersebut, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi bertipe Strombolian dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik kemudian terus berlangsung hingga September 2026.

Artinya, erupsi September 2026 bukanlah aktivitas yang muncul secara tiba-tiba tanpa rangkaian aktivitas sebelumnya.

Gunung tersebut telah menunjukkan aktivitas vulkanik selama beberapa waktu sebelum memasuki fase erupsi menerus dan menampilkan lava fountain.

Lava Fountain pada Erupsi September 2026

Salah satu fenomena paling mencolok dari erupsi terbaru adalah kemunculan lava fountain.

Fenomena ini terjadi ketika material lava pijar menyembur keluar dari pusat erupsi dan terlihat seperti pancuran atau air mancur.

Pada malam hari, semburan tersebut tampak merah menyala karena temperatur lava yang sangat tinggi. Sebagian material dapat kembali jatuh di sekitar pusat erupsi, sementara material lava yang masih cair dapat mengalir mengikuti permukaan gunung.

Badan Geologi menyebut erupsi menerus selama beberapa jam yang berasosiasi dengan lava fountain merupakan fenomena yang umum terjadi.

Kemunculan lava fountain juga memperlihatkan bahwa aktivitas magma di bawah Anak Krakatau masih berlangsung secara aktif.

Sejarah Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung ini merupakan sistem vulkanik yang terus berubah.

Gunung tersebut lahir dari kawasan yang mengalami kehancuran besar pada 1883.

Beberapa dekade kemudian, aktivitas vulkanik kembali membangun gunung baru dari bawah laut. Setelah muncul ke permukaan, tubuhnya terus bertambah melalui erupsi.

Namun, pengalaman 2018 menunjukkan bahwa proses tersebut tidak selalu berjalan satu arah. Gunung yang sedang tumbuh juga dapat kehilangan sebagian tubuhnya akibat aktivitas vulkanik dan longsoran.

Itulah yang membuat Anak Krakatau begitu penting untuk dipantau.

(tsy)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:57
02:03
05:04
05:34
01:25
04:56

Viral