- Kolase tvOnenews.com/ Threads @sarikhakartika @amin_nur134
Ahli Vulkanologi Surono Imbau Warga Tak Perlu Takut dengan Erupsi Anak Krakatau, Waspadai Bahaya Abu Vulkanik
tvOnenews.com - Warga Jakarta dan sekitarnya sempat dibuat panik dengan sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Minggu (6/9/2026) pagi.
Erupsi Gunung Anak Krakatau telah terjadi berkala sejak Jumat (4/9/2026) malam. Namun kini aktivitas vulkanik dari gunung api tersebut mulai mereda.
Namun, Ahli Vulkanologi Surono mengimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan letusan Gunung Api Anak Krakatau, tetapi waspadai abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah.
Ahli Vulkanologi, Surono atau akrab disapa Mbah Rono bahwa Gunung Api Anak Krakatau merupakan gunung api muda dari segi usia.
Sehingga, sudah sewajarnya gunung ini sering meletus agar tumbuh tinggi dan besar.
Namun, ia mengingatkan hal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat bukan dampak dari letusan langsung, melainkan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah daerah.
Surono mengatakan jenis abu vulkanik yang dilontarkan Gunung Api Anak Krakatau bukan abu vulkanik biasa.
“Dia mengandung silika, bahan pembuat kaca yang keras. Jadi gunakanlah masker penutup hidung dan mulut jangan sampai terhisap. Nanti bisa terjadi gangguan pada saluran pernapasan yang akut karena bentuknya yang kasar,” ungkap Surono, Dilansir dari tayangan YouTube SINDOnews.
- Tim tvOne - Apa Kabar Indonesia Pagi
Terkait penutupan penerbangan, ia mengatakan seluruh pihak harus maklum karena debu silika itu bisa mengakibatkan jet pesawat mati bila tersedot ke dalam mesin.
Insiden ini pernah terjadi pada sebuah maskapai penerbangan asing dengan rute Kuala Lumpur ke Sydney. Namun, terpaksa mendarat darurat lantaran abu vulkanik tersedot jet pesawat.
“Waktu British Airways penerbangan nomor 9 dari Kuala Lumpur ke Sydney mendarat darurat di Jakarta karena debu Gunung Galunggung. Meski belum sampai mati tapi sudah loss power,” ujarnya.
Untuk itu, Mbah Rono berharap kejadian itu tidak lagi terjadi terlebih posisi Gunung Anak Krakatau yang terdapat diantara Bandara Raden Inten, Lampung dan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Ia juga menyayangkan hujan tidak kunjung turun di musim kemarau. Hal ini mengakibatkan abu vulkanik yang sempat menyelimuti sejumlah daerah tidak kunjung menghilang.
Surono menjelaskan letusan Gunung Anak Krakatau tidak begitu menakutkan. Tsunami yang terjadi pada 2018 sudah dapat diprediksi akibat longsoran dari badan gunung.
“Kalau letusan Anak Krakatau tidak menakutkan. Yang kemarin 2018 itu terjadi tsunami itu longsoran dari sebagian tubuh Anak Krakatau yang sudah kita prediksi. Anak Krakatau itu tumbuh di samping ibunya (Gunung Krakatau). Jadi daerahnya lemah yang kemungkinan bisa gugur saat anak krakatau ini menjadi besar dan terguncang terus saat terjadi letusan,” jelas Surono.
“Letusan ini adalah letusan yang harus dilakukan secara alami oleh Anak Krakatau supaya tubuhnya semakin besar dan semakin tinggi,” pungkasnya.
Potensi Erupsi Masih Ada
Sementara itu, Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan bahwa berdasarkan analisis dari alat pemantauan mencatat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai mengalami penurunan.
Akan tetapi tidak mengindikasikan aktivitas gunung api tersebut sepenuhnya berhenti.
“Memang saat ini alat pemantauan kami memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, tetapi menurunnya itu bukan berarti akan berhenti aktivitasnya. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi,” ujarnya setelah meninjau Pos Pemantauan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, pada Minggu (6/9/2026).
Untuk mengantisipasi adanya potensi erupsi, PVMBG melakukan pemantauan secara ketat selama 24 jam penuh yang hasilnya akan dikomunikasikan kepada pemerintah daerah setempat, terutama apabila terjadi perubahan rekomendasi penanganan bencana.
(kmr)