news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kepala Badan Geologi Lana Saria saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/9)..
Sumber :
  • Antara

Badan Geologi Ungkap Aktivitas Gunung Anak Krakatau Kembali ke Fase Strombolian

Badan Geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kini kembali pada karakteristik asalnya, yakni fase Strombolian. 
Selasa, 8 September 2026 - 17:27 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Badan Geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kini kembali pada karakteristik asalnya, yakni fase Strombolian. 

Fase ini ditandai dengan intensitas dan durasi letusan yang cenderung pendek.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa pola erupsi gunung api tersebut saat ini sudah menunjukkan tanda-tanda kembali ke kondisi normalnya.

“Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian. Erupsi terjadi dengan amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan durasi letusannya hanya beberapa detik,” kata Lana di Bandung, Selasa (8/9).

Berdasarkan data seismik dari pos pantau, penurunan getaran mulai terlihat secara konsisten sejak 5 September lalu. 

Pada pemantauan terbaru tanggal 8 September, tercatat setidaknya ada delapan kali erupsi kecil.

“Pada pengamatan mutakhir per 8 September, terekam delapan kali letusan kecil dengan durasi berkisar antara 10 hingga 15 detik. Sebaran material letusan dan abu vulkanik terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah,” ujarnya.

Lana juga memberikan klasifikasi terkait kekhawatiran masyarakat akan potensi bencana besar. 

Ia menegaskan bahwa situasi saat ini sangat berbeda dengan peristiwa erupsi Desember 2018 yang menyebabkan tsunami akibat longsoran tubuh gunung. 

Analisis deformasi saat ini menunjukkan struktur dinding kawah masih stabil.

“Sementara saat ini, analisis data deformasi menunjukkan tidak adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi memicu longsoran lereng ke perairan,” katanya.

Seiring dengan berkurangnya sebaran abu vulkanik di atmosfer, kondisi ruang udara kini semakin membaik.

Hal ini berdampak positif bagi sektor transportasi udara, di mana sejumlah bandara yang sempat terdampak kini telah beroperasi kembali secara normal.

Selain penerbangan, aktivitas ekonomi masyarakat pesisir juga mulai menggeliat kembali. 

Nelayan di kawasan Selat Sunda sudah diperbolehkan melaut, meski tetap diminta untuk waspada.

“Sementara bagi nelayan di pesisir Selat Sunda, aktivitas melaut telah dapat kembali berjalan normal dengan imbauan tetap mengenakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi paparan abu tipis,” tambahnya.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:03
05:19
01:23
01:28
20:49
05:57

Viral