- Adinda Safira/tvOnenews.com
Sebanyak 283.270 Orang Mengidap ISPA Akibat Karhutla Sepanjang Agustus-Oktober, Daerah Tertinggi: Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan
Jakarta, tvOnenews.com — Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 283.270 orang mengidap penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi sepanjang Agustus-Oktober 2026.
“Dan situasi saat ini ISPA yang masih diderita sebanyak 3.897 (harian), dan secara kumulatif ini ada 283.270 (18 Agustus - 13 Oktober),” kata Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, di Kemenkopolkam, Rabu (14/10/2026).
Lebih lanjut, Then menerangkan, penyakit ISPA ini kasusnya terbanyak menyerang usia di atas lima tahun, yaitu tercatat ada 219.559 orang dan pada usia 0-5 tahun tercatata ada 63.711 orang di 7 provinsi 63 kabupaten/kota.
“Dan paling banyak kalau kita lihat di Kalimantan Selatan sebanyak 74.636, diikuti oleh Sumatera Selatan 74.458,” ungkap Then.
- Dokumentasi BNPB
Sementara itu Then menerangkan, kondisi kesehatan yang berbahaya akibat karhutla ini tercatat ada 12 provinsi.
Enam provinsi diantaranya ada di Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dua wilayah di Provinsi Jambi, dua wilayah di Sumsel, dan di Riau.
Lebih lanjut, Then mengungkapkan, asap karhutla ini berisiko terhadap kesehatan lantaran mengandung partikel halus, yaitu PM2,5 maupun karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun.
Asap tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti ISPA, gejala batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan.
“Dan tentunya akan memicu asma dan bisa menyebabkan PPOK dan gangguan mata dan kulit, seperti iritasi mata seperti matanya merah kemudian gatal, perih akibat paparan daripada asap,” terang Then.
Lebih parahnya lagi, bisa berdampak disistemik, yaitu meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke, tekanan darah meningkat terutama pada lansia.
Maka dari itu, Then menegaskan bahwa Kementerian Kesehatan telah melakukan promotif preventif, yaitu edukasi promosinya untuk mengurangi risiko krisis kesehatan.
- Antara
Kemudian juga melakukan pemantauan penyakit ISPA, pneumonia, asma, maupun iritasi mata dan kulit, termasuk kesediaan daripada stok obat, BMHP, dan kondisi kapasitas daripada puskesmas dan rumah sakit.
“Demikian juga kami melakukan surveilans kualitas udara dalam ruang sehingga dinas maupun puskesmas memantau dan meng-input data, sehingga kita tahu peningkatan kadar udara di dalam luar maupun luar ruang untuk wilayahnya masing-masing puskesmas,” jelas Then.