- Gambar Ilustrasi AI
Hilang Misterius dari Rumah, Siswi SMK Tasikmalaya Ditemukan Sendirian di Apartemen PIK 2: Diduga Mau Dijadikan Pengantin Pesanan
Jakarta, tvOnenews.com - Polres Tasikmalaya, Jawa Barat, menggagalkan dugaan tindak pidana perdagangan orang bermodus perjodohan terselubung.
Seorang siswi sekolah menengah kejuruan (SMK) berusia 16 tahun berhasil diselamatkan setelah diduga kuat bakal dijadikan pengantin pesanan bagi seorang warga negara asing (WNA) asal China di kawasan Tangerang, Banten.
Dalam konferensi pers yang digelar di Tasikmalaya pada Kamis, Kapolres Tasikmalaya AKBP Ade Papa Rihi menegaskan bahwa perkara ini tengah diproses secara intensif menggunakan payung hukum tindak pidana kekerasan seksual.
"Yang bersangkutan ini menjadi korban dugaan tindak pidana yang saya katakan saat ini menurut Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang ini adalah pengantin pesanan," katanya.
Berdasarkan keterangan kepolisian, remaja asal Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, tersebut sempat raib tanpa kabar sejak 2 Oktober 2026.
Pihak keluarga mulanya berupaya melakukan pencarian mandiri, namun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya melayangkan laporan orang hilang ke kantor polisi.
Merespons aduan tersebut, kepolisian langsung menggelar pelacakan dan berkoordinasi bersama Mabes Polri.
Jejak korban akhirnya terendus di salah satu unit hunian vertikal di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Minggu (11/10).
"Tim bergerak cepat, kemudian berhasil mengamankan korban atau yang mana anak yang sudah hilang, setelah di sana kita amanin," ujar Ade.
Dari hasil interogasi awal, korban disinyalir hendak diserahkan dalam skema pengantin pesanan kepada seorang pria berkebangsaan China berinisial XM alias MJ (35).
Kamar apartemen tersebut diduga sengaja disewa sebagai tempat penampungan sementara sebelum pria asing itu menjemputnya.
"Tujuan korban berada di Apartemen Tokyo PIK 2 adalah untuk tinggal sementara sambil menunggu kedatangan Mr. XM alias MJ," katanya.
Hubungan korban dan WNA tersebut bermula dari komunikasi intens yang terjalin lewat platform media sosial.
Demi memikat korban, terduga pelaku kerap mentransfer sejumlah uang agar remaja di bawah umur itu bersedia kabur meninggalkan kediaman keluarganya.
Berbekal kiriman biaya dari pria tersebut, korban nekat menempuh perjalanan seorang diri dari Tasikmalaya menuju lokasi apartemen yang telah disiapkan.