news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Asap Karhutla Bisa Picu Gangguan Kesehatan, Kemenkes Ingatkan 4 Kelompok yang Paling Rentan.
Sumber :
  • Antara

Asap Karhutla Bisa Picu Gangguan Kesehatan, Kemenkes Ingatkan 4 Kelompok yang Paling Rentan

Kemenkes mengingatkan bahaya paparan asap karhutla yang dapat mengganggu pernapasan, mata, dan kulit. Simak kelompok rentan serta cara melindungi diri
Minggu, 18 Oktober 2026 - 02:59 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau membuat udara terasa pengap. Partikel dan polutan yang terbawa asap dapat masuk ke saluran pernapasan, memicu iritasi, hingga memperburuk kondisi kesehatan yang sudah dialami seseorang. 

Risiko ini menjadi perhatian khusus ketika kebakaran berlangsung di wilayah yang berdekatan dengan permukiman.

Bahaya paparan asap juga tidak selalu langsung terasa. Sebagian orang mungkin hanya mengalami mata perih atau tenggorokan tidak nyaman, sedangkan kelompok tertentu dapat menghadapi risiko lebih besar, terutama jika paparan berlangsung berulang atau kualitas udara terus memburuk. 

Karena itu, mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memperhatikan kondisi tubuh menjadi langkah penting selama karhutla terjadi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak agar tidak mengabaikan risiko tersebut. 

Pemerintah menekankan perlunya perlindungan ekstra bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan. Kewaspadaan diperlukan agar dampak kesehatan akibat asap dapat ditekan, terutama ketika kondisi udara sudah masuk kategori tidak sehat.

Paparan Asap Karhutla Tak Hanya Mengancam Saluran Pernapasan

Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, menjelaskan bahwa dampak asap karhutla dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh. Gangguan yang muncul tidak terbatas pada sistem pernapasan, tetapi juga dapat mengenai mata dan kulit serta memperburuk penyakit kronis.

"Asap karhutla tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga menyebabkan iritasi mata dan kulit serta memperburuk penyakit kronis," kata Widyawati, melansir dari ANTARA, Sabtu (17/10/2026).

Paparan asap dapat membuat masyarakat mengalami keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa gatal, sesak napas, atau iritasi pada mata. Tingkat gangguan yang dialami setiap orang dapat berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, konsentrasi polutan di udara, serta lamanya seseorang terpapar.

Partikel halus yang terkandung dalam asap menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai karena dapat masuk ke saluran pernapasan. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru lainnya, kondisi udara yang tercemar berpotensi memicu kekambuhan atau memperburuk gejala.

Risiko tersebut membuat kualitas udara perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas harian. Ketika udara memburuk akibat kebakaran, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan apakah asap terlihat pekat atau tercium menyengat. Informasi kualitas udara dan munculnya keluhan fisik juga penting diperhatikan.

Anak-anak hingga Ibu Hamil Perlu Mendapat Perlindungan Ekstra

Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap pencemaran udara. Kemenkes mengidentifikasi empat kelompok yang memerlukan perhatian khusus ketika terpapar asap karhutla, yakni anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.

"Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus," ujar Widyawati.

Anak-anak perlu dilindungi karena sistem tubuh mereka masih berkembang dan mereka dapat menghabiskan waktu untuk bermain atau beraktivitas di luar rumah. Sementara itu, lansia dan orang dengan gangguan pernapasan dapat lebih mudah mengalami masalah ketika kualitas udara memburuk.

Ibu hamil juga termasuk kelompok yang perlu berhati-hati terhadap paparan polusi udara. Mengurangi paparan yang tidak perlu menjadi langkah pencegahan yang masuk akal selama kondisi lingkungan belum membaik.

Perlindungan bagi kelompok rentan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Keluarga dan lingkungan sekitar juga perlu membantu membatasi aktivitas luar ruangan, memastikan tempat tinggal memiliki ruang yang lebih terlindung dari asap, serta memperhatikan gejala yang muncul.

Apabila anggota keluarga mulai mengalami gangguan kesehatan, jangan menganggap keluhan tersebut sebagai dampak ringan yang pasti akan hilang dengan sendirinya. Kondisi tertentu membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan, terutama jika gejalanya memburuk atau mengganggu aktivitas.

Empat Langkah Mengurangi Risiko Kesehatan Saat Asap Mengepung

Untuk mengurangi dampak paparan asap, Kemenkes mengimbau masyarakat melakukan sejumlah langkah pencegahan. Upaya tersebut berfokus pada pembatasan paparan, penggunaan perlindungan saat harus keluar rumah, pemeliharaan kesehatan, dan penanganan keluhan sedini mungkin.

Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan. Masyarakat disarankan membatasi kegiatan luar rumah, terutama ketika indikator kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat. Aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dihindari saat polusi meningkat karena dapat membuat seseorang menghirup lebih banyak udara.

Kedua, gunakan masker ketika terpaksa keluar. Masker yang sesuai, seperti respirator berstandar N95 atau KN95 jika tersedia dan digunakan dengan benar, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. 

Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus dalam asap. Masker juga bukan pengganti upaya mengurangi waktu berada di udara tercemar.

Ketiga, jaga kondisi tubuh dan lingkungan tempat tinggal. Pastikan kebutuhan istirahat dan cairan tercukupi, serta kurangi masuknya asap ke dalam ruangan jika memungkinkan. Pantau informasi kualitas udara dari sumber tepercaya untuk menentukan langkah pencegahan yang sesuai.

Keempat, segera cari pertolongan medis jika mengalami keluhan. Kemenkes mengimbau masyarakat mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila merasakan gangguan atau masalah kesehatan. Sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau bibir membiru membutuhkan pertolongan medis segera.

"Perlindungan kesehatan masyarakat adalah prioritas pemerintah. Kemenkes bersama pemerintah daerah terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan sehingga dampak kesehatan dapat diminimalkan," kata Widyawati.

Peringatan tersebut menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga perlindungan warga dari dampak pencemaran udara. 

Selama asap masih mengancam kualitas udara, membatasi paparan, melindungi kelompok rentan, dan segera memeriksakan keluhan kesehatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:56
08:50
02:47
06:54
06:16
06:20

Viral