- Kolase tvonenews.com
Malah Curhat, Kuat Maruf Bilang ke Ahli Psikologi Forensik: "Saya Sakit dengan Bahasa Itu, Ibuk"
Jakarta – Kehadiran ahli psikologi forensik dari Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (Apsifor) membuat suasana persidangan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Khususnya ketika dirinya membacakan hasil tes psikologi milik Kuat Maruf.
Diketahui ahli psikologi forensik yang bernama Reni Kusumawardhani tersebut mengatakan bahwa Kuat Maruf memiliki kecerdasan di bawah rata-rata orang seusianya.
Bahkan saat menyebutkan mengenai hasil tes milik Kuat Maruf, ahli psikologi meminta maaf terlebih dahulu pada Kuat Maruf.
“Saya harus menyampaikan ya, Pak. Mohon maaf ini bisa dibuka. Izin Pak Kuat,” sebut psikolog Forensik terhadap Kuat Maruf.
Kuat Maruf dalam persidangan (Kolase tim tvOnenews)
Namun alih-alih marah karena disebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata orang seusianya, Kuat Maruf justru balas berkelekar. Pada publik, sopir Ferdy Sambo tersebut mengatakan bahwa tidak masalah jika disebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata.
“Mohon maaf ibu, kalau ibu menyimpulkan saya di bawah rata-rata, saya ikhlas, Bu,” ucap Kuat Maruf.
Namun dirinya justru ingin menanyakan perkara lain yakni apakah ia tipe orang pembohong atau tidak.
“Yang saya tanyakan saya ini tipe pembohong, apa yang tidak jujur apa gimana Ibuk? Soalnya akhir-akhir ini saya sering disebut pembohong dan tidak jujur, Ibuk. Dan saya sakit dengan bahasa itu, Ibuk,” ungkap Kuat Maruf.
Jawaban ahli psikologi forensik
Mendengar pertanyaan tersebut, ahli psikologi forensik dari Apsifor lantas menjelaskan bahwa memang pernah terjadi kebohongan. Namun sebenarnya Kuat Maruf telah mengakui kebohongan tersebut dan merevisinya, sehingga dibuatlah kesimpulan seperti yang telah disebutkan.
“Memang pernah terjadi kebohongan dan itu sudah diakui, kemudian direvisi, dan kemudian kami mengukur kredibilitas keterangan, Bapak,” ungkap ahli psikologi forensik.
Diketahui sebenarnya sikap Kuat Maruf tersebut karena kepatuhannya yang berlebih terhadap sang atasan.
“Sebetulnya karena kepatuhan yang sangat tinggi seperti itu dan ada situasi tidak tahu menahu berada dalam satu tempat dalam situasi seperti itu ya sehingga berada di tempat yang keliru ya Pak ya pada saat itu?” sebut psikolog forensik Reni Kusumowardhani sembari diiringi gelak tawa.