- Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS
Skenario FIFA Jika Iran Undur Diri dari Piala Dunia 2026 usai Berkonflik dengan Amerika Serikat
Jakarta, tvOnenews.com - Konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan kekhawatiran menjelang penyelenggaraan Piala Dunia yang akan berlangsung di Amerika Utara pada musim panas mendatang. Situasi geopolitik yang memanas dinilai dapat berdampak pada kesiapan turnamen, terutama terkait keamanan dan kelancaran partisipasi tim.
Ketegangan kedua negara meningkat dalam beberapa waktu terakhir, terlebih setelah Iran masuk dalam daftar 38 negara yang terkena larangan perjalanan penuh yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. Meski pemain dan ofisial tim nasional dikecualikan, isu visa tetap menjadi perhatian utama bagi federasi sepak bola Iran.
Pemerintah Iran sempat mempertimbangkan langkah boikot terhadap acara pengundian Piala Dunia di Washington, DC. Namun, keputusan tersebut akhirnya dibatalkan setelah adanya pembicaraan lanjutan dan jaminan tertentu terkait kehadiran delegasi.
Di tengah situasi tersebut, kekhawatiran semakin meningkat usai pemerintah AS mengumumkan dimulainya operasi tempur besar-besaran terhadap Iran. Langkah militer ini disebut sebagai respons terhadap berbagai ancaman yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan.
Amerika Serikat diketahui bekerja sama dengan Israel dalam operasi militer gabungan yang menyasar sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu reaksi keras dari pihak Iran yang kemudian melakukan serangan balasan di beberapa wilayah Timur Tengah.
Donald Trump yang pernah menerima penghargaan perdamaian dari FIFA menegaskan komitmennya untuk memperlemah kekuatan militer Iran. Ia bahkan menyatakan akan “untuk menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka” demi menjaga keamanan kawasan.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke berbagai target yang berkaitan dengan Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Yordania, hingga Bahrain. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpastian baru terkait partisipasi Iran di ajang sepak bola paling bergengsi dunia.
Skenario terburuk yang mulai dibahas adalah kemungkinan Iran tidak ambil bagian dalam Piala Dunia. Apalagi, 78 dari total 104 pertandingan akan digelar di wilayah Amerika Serikat yang menjadi tuan rumah utama.
Padahal, Iran telah memastikan tiket ke Piala Dunia setelah menjadi juara Grup A pada kualifikasi zona Asia. Ini akan menjadi penampilan ketujuh mereka di turnamen tersebut, sekaligus momentum penting bagi sepak bola negara tersebut.
Dalam undian sementara, Iran tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Seluruh laga grup mereka dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, sehingga persoalan diplomatik bisa berpengaruh langsung.
Hingga kini, belum ada keputusan resmi mengenai dampak konflik terhadap keikutsertaan Iran. Namun, regulasi FIFA telah mengatur prosedur jika suatu negara mengundurkan diri atau tidak diizinkan berpartisipasi.
Dikutip dari Sport Bible, FIFA dalam buku regulasinya menyebutkan bahwa tim yang batal tampil akan digantikan oleh tim lain. Biasanya, pengganti berasal dari peringkat kedua play-off kualifikasi atau tim non-kualifikasi dengan peringkat terbaik di konfederasi terkait.
Aturan tersebut juga menjelaskan, “Jika penggantian tidak praktis (waktu, visa, perjalanan), berikan slot grup tersebut kepada tim pengganti tetapi tetap pertahankan jadwal; atau dalam kasus luar biasa, sesuaikan pengaturan grup.”
Dalam konteks Asia, Uni Emirat Arab menjadi kandidat kuat untuk menggantikan Iran. Mereka merupakan tim non-lolos dengan peringkat tertinggi di kualifikasi dan memiliki catatan kompetitif sepanjang fase tersebut.
UEA sebelumnya kalah agregat 3-2 dari Irak pada babak play-off zona Asia. Irak sendiri melaju ke babak final antarbenua dan dijadwalkan menghadapi Bolivia atau Suriname.
Opsi lain yang mungkin dilakukan FIFA adalah memindahkan posisi Iran di Grup G kepada Irak. Sementara itu, UEA berpeluang kembali masuk jalur play-off antarbenua sebagai pengganti.
Situasi ini masih terus berkembang dan menjadi perhatian publik sepak bola dunia. Keputusan akhir FIFA diperkirakan akan mempertimbangkan aspek keamanan, politik, dan integritas kompetisi secara menyeluruh.