- Tangkapan layar
Wasit Liga Indonesia Bertingkah di Piala Dunia, Bikin Gestur White Supremacy: Untungnya Dibela FIFA
Guna memperkuat pembelaannya, Evans membeberkan bukti kuat berupa rekaman video asli di dalam ruang VAR yang diambil sepanjang jalannya pertandingan.
Berdasarkan rekaman utuh tersebut, ia terpantau memang kerap melakukan gerakan motorik serupa secara berulang, terutama ketika jemarinya tengah memegang atau menyelipkan alat tulis.
"Foto dan rekaman yang diambil selama pertandingan memperlihatkan bahwa saya mengulangi gerakan itu berkali-kali saat memegang pena di antara jari-jari saya," jelas sang pengadil lapangan A-League tersebut.
Bagi Evans, kesempatan emas dipercaya masuk ke dalam jajaran korps ofisial dalam turnamen sepak bola terakbar di jagat raya ini merupakan puncak pencapaian tertinggi sekaligus sebuah kehormatan luar biasa dalam karier profesionalnya sebagai pengadil lapangan.
"Menjadi bagian dari perangkat pertandingan di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya dan saya menantikan kesempatan untuk terus mendukung rekan-rekan wasit selama turnamen ini," pungkas Shaun Evans menutup pernyataannya secara optimistis.
Sebagai informasi, polemik ini pertama kali pecah sesaat sebelum laga penyisihan grup Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Jerman melawan Curacao dimulai pada hari Minggu kemarin, di mana laga tersebut berakhir dengan keunggulan telak panser Jerman 7-1.
Petaka muncul ketika sorotan kamera beralih ke dalam ruang Video Assistant Referee (VAR) yang berpusat di Dallas.
Shaun Evans yang bertugas sebagai asisten wasit video di ruangan tersebut tertangkap kamera memberikan gestur jari membentuk simbol 'Oke' dengan posisi lingkaran mengarah ke bawah.
Pola jari tersebut dinilai menyerupai huruf W dan P yang merupakan akronim dari slogan 'White Power'.
Bahkan, tidak sedikit pengamat yang mengategorikannya sebagai gestur khas kelompok neo-Nazi atau simbol kebencian sayap kanan ekstrem global, mengacu pada ketetapan badan anti-kebencian dunia, Anti-Defamation League (ADL).
Sebelum FIFA merilis hasil investigasi bersih ini, mitra resmi FIFA dan UEFA dalam memantau tindakan rasialisme, Fare Network, sempat melayangkan tuntutan keras agar nama Shaun Evans langsung dicoret dan diusir dari sisa seluruh agenda pertandingan Piala Dunia 2026 karena dianggap telah mencoreng nilai sportivitas.