- istimewa
WOSPAC Kirim Talenta Muda ke Spanyol, Bidik Lahirkan Generasi Timnas Indonesia Tembus Piala Dunia
Diskusi tersebut turut menghadirkan Direktur Operasional I.League Asep Saputra, pengamat sepak bola Suryopratomo, serta Akmal Marhali sebagai penanggap. Mereka membahas berbagai aspek penting dalam pembangunan sepak bola Indonesia.
Beberapa isu yang menjadi sorotan meliputi peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembinaan kelompok umur, perbaikan kompetisi, hingga standarisasi infrastruktur sepak bola nasional. Seluruh aspek tersebut dinilai saling berkaitan dalam menciptakan prestasi jangka panjang.
"Momentum harus bertemu kesempatan. Generasi muncul setiap saat dan harus dijembatani. WOSPAC tidak hanya menunggu, tapi menciptakan kesempatan demi anak Indonesia," katanya.
Benhard juga menjelaskan bahwa para pemain yang menjalani pembinaan di Spanyol berpeluang memperoleh status homegrown. Status tersebut bisa didapat setelah pemain terdaftar dan berkompetisi selama tiga tahun tanpa menghilangkan kewarganegaraan asalnya.
Menurutnya, regulasi homegrown memiliki peran penting dalam pengembangan talenta lokal di Eropa. Aturan tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa pemain hasil pembinaan akademi mendapatkan nilai yang tinggi di pasar sepak bola.
"Pada Mei (2026) ada satu anak usia 14 tahun yang kita titipkan di klub lokal, yaitu Martorell. Penampilannya dipuji CEO WOSPAC, Alex Bosacoma Sesma, dan disarankan main di usia 17. Kami yakin lebih banyak lagi anak Indonesia yang memiliki bakat tapi mereka butuh penyaluran, untuk tumbuh dan berkembang," ungkapnya.
Benhard menegaskan WOSPAC tidak hadir untuk menggantikan sistem pembinaan yang sudah ada di Indonesia. Sebaliknya, pihaknya ingin menjadi mitra jangka panjang bagi PSSI, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pembinaan usia dini sehingga semakin banyak pemain Indonesia yang mampu menembus level internasional dan suatu hari membawa Merah Putih tampil serta bersaing di Piala Dunia.
"WOSPAC Indonesia menjadi solusi jangka panjang dan melengkapi program PSSI, bermitra dengan PSSI, menggandeng pihak swasta dan semua pihak terkait untuk mengirim dan menempa bakat lokal di akademi elit dunia demi kemandirian sepak bola Indonesia. Diperlukan kolaborasi strategis dalam membangun roadmap pembinaan usia dini berbasis model akademi dunia," pungkasnya.
(igp)